Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Hasil Panen Stroberi Turun 20 Persen, Harga Naik Rp 35 Ribu per Kg

Hasil panennya menurun karena banyak yang busuk, bisa sampai 20 persen. Karena kena air hujan, kalau stroberi kan nggak boleh kena banyak air

Penulis: Lugas Wicaksono | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Lugas Wicaksono
Seorang petani sedang memilah stroberi yang busuk di Kawasan Danau Buyan, Desa Pancasari, Sukasada, Buleleng, Selasa (5/5/2015) 

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG - Gede Lantur, seorang petani stroberi di kawasan Danau Buyan, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng melayani tiga orang pengunjung yang berwisata petik stroberi di kebunnya, Selasa (5/5/2015).

Lantur turut membantu memetikkan stroberi yang sudah siap petik.

Pria ini mengatakan, panen stroberinya kini menurun akibat curah hujan yang tinggi di kawasan itu.

Hampir setiap hari di kawasan Danau Buyan selalu turun hujan. Akibatnya, buah stroberi tidak sedikit yang busuk karena terkena air hujan.

Bahkan, buah stroberi yang busuk bisa mencapai 20 persen dari keseluruhan hasil panen di kebunnya seluas 1,5 hektare.

Kondisi ini menyebabkan kualitas stroberi menurun.

Jika sebelum musim penghujan, ia mampu menjual 50 kilogram (kg) per hari, kini ia maksimal hanya mampu menjual 30 kg per hari ke pengepul.

Menurutnya, kondisi ini telah dialaminya sejak Desember 2014 lalu.

Dikatakan, menurunnya hasil panen ini mempengaruhi harga jual stroberi. Harga buah stroberi untuk wisata petik kini naik menjadi Rp 35 ribu per kilogram (kg) dari sebelumnya Rp 25 ribu.

Semenetara untuk stroberi yang dijual ke pengepul naik Rp 20 ribu per kg dari sebelumnya Rp 15 ribu per kg.

“Kalau sekarang hasil panennya menurun karena banyak yang busuk, bisa sampai 20 persen. Karena kena air hujan, kalau stroberi kan nggak boleh kena banyak air,” katanya.

Demi melindungi tanaman stroberi dari guyuran air hujan, ia memasang plastik di atas tanaman yang berfungsi untuk melindungi tanaman.

Selain itu, ia juga mengurangi intensitas penyiraman tanaman. Jika ketika musim kemarau, ia menyiram kebunnya dua kali sepekan, kini hanya sekali dalam sepekan.

“Paling tidak bisa mengurangi buah yang busuk kalau ditutupi plastik. Waktu siramnya juga sekarang hanya sepekan sekali. Kami ambilkan dari air danau, hasilnya juga lebih bagus,” ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved