Sampah di Bali
Jasa Pengelola Sampah Bali Gulung Tikar, Beberapa Mulai Jual Moci
Akibat kesulitan membuang sampah pasca TPA Suwung tak menerima pembuangan sampah organik, beberapa jasa pengelola sampah gulung tikar.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Akibat kesulitan membuang sampah pasca TPA Suwung tak menerima pembuangan sampah organik per 1 April 2026, beberapa jasa pengelola sampah gulung tikar.
Beberapa di antaranya bahkan menjual motor cikar (moci) mereka.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Forum Swakelola Sampah Bali, I Wayan Suarta.
Ia mengungkapkan belum mengetahui secara pasti jumlah motor cikar milik jasa pengelola sampah yang telah terjual.
Baca juga: Warga Bakar Sampah dan Menumpuk di Pinggir Jalan Denpasar, Ini Tanggapan Wawali
"Untuk kepastiannya kita belum tahu, cuma mereka sudah bilang ke grup di sana mereka menyampaikan. Bisa ada yang diam-diam jual, ada yang bersihkan mobilnya kemudian ditaruh begitu saja," jelasnya pada, Senin 13 April 2026.
Lebih lanjutnya, Suarta mengatakan jasa pengelola sampah kini kebingungan ke mana membawa sampah masyarakat.
Sementara pembuangan sampah residu dan non organik sangat ketat di TPA Suwung.
Baca juga: Mulai 1 Mei, Warga Buleleng Wajib Pilah Sampah dari Rumah, TPA Bengkala Hanya Terima Sampah Residu
"Terus organiknya ini katanya pemerintah sudah menyiapkan seperti dibilang tadi yang Kertalangu (TPST)."
"Tapi kenyataannya baru bekerja beberapa hari saja sudah tidak mampu mereka menampung sampah organik, baik kering maupun basah dari masyarakat apalagi dari hotel-hotel itu, kan kebanyakan sampah organiknya itu di hotel-hotel," imbuhnya.
Menurutnya, pimpinan di Bali saat ini tidak dapat mengatasi sampah, kecuali tempat pembuangannya lebih banyak dan besar dan itupun harus disediakan mesin yang siap untuk mengerjakan itu.
Baca juga: Sempat Terjadi Ketegangan dan Sampah Membeludak, TPS3R Sesetan Pertimbangkan Syarat KTP
"Sudah putus asa, ada yang sudah berhenti, ada yang sekadar dia bisa ambil dia ambil. kalau ndak ya ndak, akhirnya ya takutnya sampah masyarakat tidak ada yang mengangkut karena sudah bermasalah," bebernya.
Kondisi ini jika dibiarkan lama-lama pastinya masyarakat yang akan dirugikan juga merembet ke pariwisata.
"Ketika tidak ada yang melayani, akhirnya masyarakat yang dirugikan dan tumpukan sampah ada di mana-mana akhirnya yang rugi kita semua termasuk pemerintah, masyarakat karena berdampak pada pariwisata," pungkasnya. (*)
Berita lainnya di Masalah Sampah di Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Sempat-Terjadi-Ketegangan-dan-Sampah-Membeludak-TPS3R-Sesetan-Bali-Pertimbangkan-Syarat-KTP.jpg)