Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Biodiversitas dan Seni, Pemetaan Kekayaan Desa Pejeng

Desa Pejeng memiliki 53 jenis burung, 9 mamalia, 7 reptil, 67 pura, 30 vegetasi, 6 sungai dan 10 sumber mata air.

Penulis: I Putu Darmendra | Editor: gunawan
Tribun Bali
Pameran Biodiversitas dan Seni di Wantilan Pura Penataran Sasih Pejeng 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Desa Pejeng, Gianyar, Bali belakangan begitu gencar napak tilas aneka ragam kekayaan. Dirangkumlah dalam sebuah tajuk wacana bernama Biodiversitas dan Seni. Metodenya dengan melakukan pemetaan guna mengetahui kekayaan apa saja yang ada, pernah ada dan akan ada di Desa Pejeng.

"Belum semua warga kami mengetahui sumber keanekaragaman hayati maupun seni. Jika mereka ke ranah sosial ekonomi untuk melakukan pengembangan, mereka akan bergerak tanpa jejak, tanpa dasar yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara empiris dan akademis," tutur Cokorda Agung Kusuma Yuda, Perbekel Pejeng, Sabtu (24/10/2015).

Lima bulan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pemetaan. Malam ini (kemarin), Desa Pejeng akhirnya menggelar lounching program Biodiversitas dan Seni. Sebuah program pengembangan yang memetakan aneka ragam potensi desa.

Sejumlah banner tergantung di wantilan Pura Penataran Sasih, Pejeng. Banner-banner tersebut memberikan gambaran aneka ragam potensi kekayaan desa yang berusia 10 abad ini.

Dalam sebuah banner, terpajang rincian yang menyatakan Desa Pejeng memiliki 53 jenis burung, 9 mamalia, 7 reptil, 67 pura, 30 vegetasi, 6 sungai dan 10 sumber mata air. Namun tak dipungkiri, masih ada potensi lainnya yang luput dari pemetaan.

"Potensi yang sudah dipetakan ini akan dilihat oleh masyarakat Pejeng. Mereka nanti yang akan mengkritik setelah melihatnya, oh di sini belum, ini sudah. Dari masukan dan kritik itu kita bergerak lagi untuk melakukan pemetaan," ujarnya.

Ia katakan, ada tiga pilar yang selalu bergerak untuk mempertahankan serta mengembangkan program desa yang progresif ini. Mereka adalah kelompok fotografi, kelompok teknologi dan kelompok petani organik. Mayoritas tiga kelompok ini diisi oleh anak muda yang dipercaya akan menjadi lokomotif penguatan ekonomi Desa Pejeng.

Pemetaan potensi ini pada hakekatnya bertujuan untuk membangun desa yang mandiri. Bagi dia, pemetaan menjadi cara untuk menjaga aset desa. Aset tidak lagi didefinisikan berwujud tanah, tidak juga hanya sawah. Aset adalah cerita, satwa, tanaman hingga resep racikan kuliner lokal.

"Segala aset ini kami coba untuk kumpulkan sebisa mungkin. Kami ingin semampunya melindungi aset itu karena kami percaya lewat data pemetaan ini kami akan menajdi desa yang mandiri," tutur Cokorda Agung Kusuma Yuda.

Bupati Gianyar, Anak Agung Gde Agung Bharata terang-terangan mengaku kalah dengan program Biodiversitas dan Seni yang diterapkan Desa Pejeng. Ia mengatakan, pameran pemetaan potensi desa akan menjadi sumber informasi yang valid bagi masyarakat.

"Pameran Biodiversitas akan menjadi sumber informasi bagi warga lokal maupun luar. Saya bangga dengan ini, dan saya mengaku kalah. Program seperti ini akan menjadi aset luar biasa untuk merumuskan pembangunan di masa depan yang tepat guna," tutur bupati.(*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved