Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Nasional

Bapanas Pastikan Stok Aman, Harga Beras Malah Merangkak Naik

Harga pangan di dalam negeri bergerak variatif pada Jumat (26/9), menurut data Panel Harga Pangan.

Editor: Ni Ketut Dewi Febrayani
PIXABAY
ILUSTRASI BERAS - Bapanas Pastikan Stok Aman, Harga Beras Malah Merangkak Naik 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Harga pangan di dalam negeri bergerak variatif pada Jumat (26/9), menurut data Panel Harga Pangan.

Telur ayam ras tercatat mengalami kenaikan paling tinggi, naik 0,44 persen atau Rp 131 per kilogram (kg) menjadi Rp 29.991 per kg.

Harga beras medium juga merangkak 0,35 % atau Rp 49/kg menjadi Rp 13.884/kg, sementara beras premium naik 0,34 % atau Rp55/kg menjadi Rp13.884/kg.

Sebaliknya, sejumlah komoditas utama justru mengalami penurunan. Cabai merah besar anjlok 3,08 % atau Rp 1.586 per kg ke level Rp 49.862 per kg. Harga cabai rawit merah turun 1,74 % atau Rp 835 per kg menjadi Rp 47.165 per kg, sedangkan bawang merah turun 1,27 % atau Rp 500 per kg menjadi Rp 38.783 per kg.

Baca juga: TUMBUH 10 Persen Produksi Tahu-Tempe, Butuh 3,4 Juta Ton Per Tahun, Dampak Harga Beras & Daging Naik

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi dalam keterangan resminya, menegaskan, pemerintah terus melakukan intervensi untuk menjaga keterjangkauan harga, terutama beras.

Salah satunya lewat penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) oleh Perum Bulog.

“Pemerintah melalui Perum Bulog menyalurkan 800.000 ton beras SPHP di gerai ritel modern agar masyarakat mudah mendapatkan beras dengan harga murah. Penyaluran dilakukan bertahap, yakni 200.000 ton selama empat bulan ke depan hingga akhir tahun,” jelas Arief.

Selain itu, Bapanas juga sudah mengumpulkan produsen beras agar memastikan ketersediaan stok di peritel tetap aman.

Di sisi lain, Bapanas mengingatkan seluruh pemangku kepentingan pangan untuk lebih waspada dalam menghadapi dinamika ketersediaan dan harga pangan pokok, khususnya beras, terutama menjelang akhir tahun 2025 hingga awal 2026.  

Arief menegaskan pentingnya pengelolaan stok beras dan memperhatikan tren produksi karena pada periode November 2025 hingga Januari 2026 produksi padi mengalami penurunan.

Mencatat Data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional sepanjang Januari hingga September 2025 mencapai 28,22 juta ton beras atau meningkat sekitar 3,18 juta ton atau 12,70 % jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: TRAKTIR Warga Beras Hingga Daging Ayam, Mendag Tinjau Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Nyanggelan 

Kemudian, dibandingkan dengan konsumsi Januari - September 2025 yang mencapai 23,21 juta ton, neraca produksi - konsumsi pada periode tersebut surplus sekitar 5,01juta ton, atau meningkat 3,13 juta ton dibanding tahun lalu pada periode yang sama.

“Ini tentu capaian positif yang harus kita syukuri. Namun kita juga tidak boleh lengah, sebab memasuki November 2025 hingga Januari 2026, produksi padi biasanya mengalami penurunan,” kata Arief. (kontan)

Konsumsi Bulanan Capai 2,5 Juta Ton

Di sisi lain, Kepala Bapanas Arief Prasetyo Adi dalam keterangan resminya, mengatakan, konsumsi bulanan masih sama yakni mencapai 2,5 juta ton. Untuk itu, penting untuk menjaga ketersediaan dan stabilitas harga beras di pasar.

“Cadangan pangan pemerintah itu ibarat rem dan gas, harus kita kelola dengan benar agar masyarakat tetap mendapatkan beras dengan harga terjangkau. Sementara petani juga terlindungi harga gabahnya,” tegasnya.

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved