Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Nasional

Rekor Nilai Tukar Terlemah Sepanjang Masa, Rupiah Rontok di Level Rp 17.529 Per Dolar AS

pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pasar keuangan Indonesia. 

Tayang:
Penulis: Kambali | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Tribun Bali/TRIBUNNEWS/JEPRIMA
UANG PECAHAN - Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Nilai tukar rupiah di level Rp 17.529 per dolar AS pada Selasa (12/5). 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah rontok terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa 12 Mei 2026. 

Kurs rupiah di pasar spot melemah tajam Rp 115 atau 0,66 persen menjadi Rp 17.529 per dolar AS. Kurs rupiah Jisdor pun melemah Rp 99 atau 0,57 persen menjadi Rp 17.514 per dolar AS. 

Pelemahan nilai tukar rupiah ini adalah rekor baru rupiah paling lemah sepanjang masa. 

Ini juga merupakan pelemahan paling tajam rupiah dalam hampir dua pekan terakhir.

Baca juga: Ngaku Ditipu Ratusan Juta Rupiah, Ramenika Elliot Laporkan Owner Klinik Kecantikan ke Polisi

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran atas inflasi, defisit fiskal, dan pasokan energi. 

Kekhawatiran ini telah muncul beberapa bulan terakhir di tengah laporan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,6 persen. 

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpandangan pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pasar keuangan Indonesia. 

Dari eksternal, Ibrahim menyoroti memanasnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah. 

Negosiasi antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik dinilai masih rapuh setelah muncul berbagai perbedaan tuntutan di kedua belah pihak.

“Pada saat yang sama, hanya beberapa hari sebelum pertemuan Trump yang direncanakan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, Washington menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan, termasuk perusahaan yang berbasis di Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman, karena memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Tiongkok,” jelas Ibrahim, seperti dilansir Kontan.co.id. Selasa 12 Mei 2026.

Secara terpisah, Wall Street Journal melaporkan pada hari Senin bahwa UEA melakukan serangan militer terhadap Iran, termasuk serangan pada awal April yang menargetkan kilang minyak di Pulau Lavan, Iran. UEA belum secara terbuka mengakui serangan tersebut.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan belum cukup kuat menopang rupiah. Menurut dia, pertumbuhan tersebut lebih dipengaruhi efek basis rendah atau base effect karena pembanding tahun sebelumnya relatif lemah.

“Angka 5,61 persen terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena kita membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah. Dalam pelajaran statistik, ini namanya base effect, atau efek basis,” jelasnya.

Ia menambahkan, pasar juga masih mengkhawatirkan kondisi fiskal domestik. 

Ketidakpastian arah kebijakan royalti tambang serta belum jelasnya strategi peningkatan pendapatan negara di tengah besarnya kebutuhan belanja pemerintah dinilai menambah tekanan terhadap rupiah.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved