Berita Tabanan
Dipamerkan di Tabanan Bali, Patung Rush to Paradise Kritik Surga Modernitas yang Hancurkan Alam
Pameran seni di Tabanan Bali, Ketut Putrayasa menuturkan, karyanya ini dibuat dari kayu dan stainless steels dengan ukuran 196 x 61 cm.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pameran "Liana Riverie: Vivid Colours" menampilkan karya patung "Rush to Paradise" karya pematung Bali I Ketut Putrayasa.
Karya nyeleneh tersebut dipajang bersama karya para perupa lainnya sejak 8 November 2025 hingga 20 Januari 2026 di Labyrinth Art Gallery Nuanu Creative City, Tabanan, Bali.
Ketut Putrayasa menuturkan, karyanya ini dibuat dari kayu dan stainless steels dengan ukuran 196 x 61 cm.
Karya ini juga menjadi satu-satunya karya patung dalam pameran bersama yang kebanyakan menampilkan lukisan berwarna cerah dan memikat mata tersebut.
Baca juga: Bentara Budaya dan HOCA Hadirkan Pameran Seni Visual ‘UTOPIA’ 2025 di Bali
"Patung atau pajangan kayu itu berbentuk mobil balap Formula 1, atau lebih tepatnya menyerupai Ferrari F2012," katanya, Minggu, 7 Desember 2025.
Moncong mobil itu dilapisi logam dan pada beberapa bagian bodinya ditumbuhi paku-paku baja runcing.
Selama ini, memang Putrayasa dikenal sebagai pematung yang kerap menyampaikan kritik lewat karya-karyanya.
Seniman kelahiran Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, Bali, 15 Mei 1981 ini ingin menyampaikan kritik terhadap modernitas yang menghancurkan alam.
Sastrawan dan penulis ulasan seni rupa, Wayan Jengki Sunarta mengatakan, karya tersebut menyuguhkan paradoks antara bentuk, material, dan makna.
"Ferrari adalah ikon kemewahan, kecepatan, dan kemajuan teknologi modern. Namun, dalam konteks karya itu, Ferrari terbuat dari potongan kayu yang kasar, penuh serat, bertekstur alami. Kontras antara bahan, bentuk, dan detail itulah yang menjadi inti pesan karya tersebut. Dengan kata lain, karya itu adalah kritik terhadap modernitas yang menghancurkan alam," paparnya.
Pada Rush to Paradise, kayu mewakili alam, kehidupan, kelembutan, dan kesinambungan ekologis.
Dalam konteks budaya Bali, kayu juga sarat makna spiritual, digunakan dalam upacara, arsitektur tradisional, dan seni ukir yang menyimbolkan hubungan harmonis manusia dengan alam semesta.
Sebaliknya, stainless steels atau baja tahan karat yang menjadi aksen pada beberapa bagian tubuh mobil menampilkan citra modernitas yakni keras, mengilap, dan tahan lama.
"Dalam konteks karya itu, logam dan paku-paku baja runcing yang menembus kayu adalah simbol dominasi dari hasrat manusia untuk menguasai alam," ujarnya.
Jengki menyebut, Rush to Paradise tidak hanya membahas tentang kemajuan teknologi, tetapi juga ironi di baliknya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Dipamerkan-di-Tabanan-Bali-Patung-Rush-to-Paradise-Kritik-Surga-Modernitas.jpg)