Human Interest Story
Penari Arja dari Tabanan Nyoman Mongol Berpulang, Belajar Otodidak hingga Tampil Bersama Arja Cupak
Hasil dari kerja buruh pertanian inilah yang kemudian digunakan untuk membeli properti pertunjukan arja.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
Panggul-panggul ini kerap digunakan oleh anak-anak dan sanggar, bahkan oleh pelajar ASTI Bali (kini ISI Bali).
Karyanya tidak ditandai nama, tidak dipamerkan, namun terus hidup dalam bunyi dan irama tabuh generasi berikutnya.
Dalam perjalanan hidupnya, ia juga dikenal sebagai pembuat alat permainan judi tradisional “bola adil”.
Dan semuanya dibuat sepenuhnya dengan tangan tanpa mesin.
Alat ini digunakannya untuk mencari nafkah di berbagai odalan di pura, maupun di berbagai tempat sabung ayam, salah satunya di Pura Natar Sari Apuan.
Di sela keramaian pertunjukan tari, ia membawa papan bola adil, namun juga selalu siap ngayah membawa keuntungan, kotak perlengkapan tari, serta berbagai properti yang kerap dipinjam orang lain. Tak jarang, properti tersebut tak pernah kembali.
Dalam pementasan tari, ia kerap berpasangan dengan penari Penasar I Riyuh serta Penasar I Nyoman Santa (Walaka), yang juga dikenal sebagai Ida Sri Empu Daksasamyoga.
Hubungan antar seniman ini bukan sekadar kolaborasi panggung, melainkan jaringan hidup tradisi yang terjalin lintas generasi.
Sekitar tahun 1962, seni arja telah mengakar kuat dalam keluarganya, termasuk melalui kakaknya yang juga aktif di dunia arja.
Puncak pengabdian keluarga ini pada seni terjadi pada 1990-an, ketika mereka mendirikan Sanggar Burat Wangi, sebuah ruang tumbuh seni arja yang menjadi tempat belajar, berkumpul, dan mewariskan nilai-nilai pertunjukan Bali.
Dari keluarga ini lahir generasi yang melanjutkan seni dalam bentuk yang bertransformasi.
I Made Adnyana Ole bergerak di bidang sastra, telah menerbitkan banyak buku dan dikenal sebagai wartawan senior pendiri media Tatkala.
Bersama istrinya, I Kadek Sonia Piscayanti sutradara, seniman teater, penulis, dan akademisi mereka membesarkan anak-anak yang juga aktif berkesenian.
Putu Putik Padi, pelajar SMA yang aktif menulis cerpen, Kadek Kayu Hujan, yang juga mewarisi darah seni dan sempat memerankan lakon Kusno (Soekarno kecil) dalam pementasan Rai Srimben di Blitar dan Denpasar.
Putranya yang lain, I Nyoman Budarsana, penari lulusan ISI Bali, salah satu pendiri Sanggar Burat Wangi, penulis seni dan budaya, serta seorang jurnalis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Nyoman-Mongol.jpg)