Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Seputar Bali

Kikis Kesenjangan Teori dan Industri, Perguruan Tinggi Bali Rombak Kurikulum Hadapi Tantangan Global

Di tengah pergeseran lanskap ekonomi kreatif yang kini sangat berorientasi pada pengalaman, institusi pendidikan dituntut untuk merombak pembelajaran

Tayang:
Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
JUMPA PERS - Direktur PIB College, Prof. Dr. Ir. Anastasia Sulistyawati saat jumpa pers Growbalization 2026 di kampus setempat, pada Sabtu 23 Mei 2026 malam. Kikis Kesenjangan Teori dan Industri, Perguruan Tinggi Bali Rombak Kurikulum Hadapi Tantangan Global 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Adrian Amurwonegoro

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Dinamika globalisasi dan pesatnya digitalisasi membawa tantangan besar bagi dunia pendidikan tinggi.

Khususnya dalam mencetak lulusan yang tidak sekadar mengantongi ijazah, tetapi memiliki kompetensi nyata yang adaptif dengan kebutuhan industri. 

Di tengah pergeseran lanskap ekonomi kreatif yang kini sangat berorientasi pada pengalaman, institusi pendidikan dituntut untuk merombak model pembelajaran konvensional. 

Merespons urgensi tersebut, Politeknik Internasional Bali (PIB) College melakukan langkah taktis dengan merombak kurikulum dan mentransformasikan program studinya demi menjawab tantangan nyata di era global.

Baca juga: DUKUNG Kesempatan Setara Bagi Perempuan, Grab Bekali Mitra Pengemudi Pelatihan Perlindungan Diri!  

Komitmen menghadapi tantangan globalisasi ini mengemuka dalam momentum perayaan Dies Natalis ke-9 yang dikemas melalui perhelatan akademis.

Sekaligus ajang kreativitas bertajuk "Growbalization 2026" di kawasan BITDec ONE, Nyanyi, Tabanan, pada Sabtu, 23 Mei 2026 malam. 

Direktur PIB College, Prof. Dr. Ir. Anastasia Sulistyawati, menegaskan bahwa di era globalisasi yang dinamis, mahasiswa tidak lagi bisa bergantung pada kemampuan teknis semata.

"Mahasiswa saat ini tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknis. Mereka harus mampu menjadi problem solver, mampu mengidentifikasi masalah, berpikir kritis, dan menghadirkan solusi berdasarkan teori serta praktek lapangan," ujar Prof. Anastasia saat jumpa pers. 

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa arah kebijakan institusi yang dipimpinnya kini lebih menitikberatkan pada aspek kualitas lulusan berskala global dibandingkan kuantitas mahasiswa. 

Baca juga: Warga Keluhkan Bau Limbah Bulu Ayam di Tojan, Nyoman Mada Sampai Sakit Kepala

Guna menjembatani jurang pemisah antara teori akademik dan kebutuhan riil dunia kerja internasional, kurikulum disusun secara fleksibel dengan mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek dan pengalaman langsung di industri kreatif maupun pariwisata.

Salah satu langkah konkret dalam merespons disrupsi global adalah meresmikan transformasi nama dan orientasi program studi, dari yang semula Event Management menjadi Creative Event Business. 

Perubahan ini bukan sekadar pergantian nomenklatur, melainkan rekonstruksi kurikulum secara menyeluruh.

Ketua Program Studi Creative Event Business, Ganang Prakoso, menjelaskan bahwa restrukturisasi ini menjadi jawaban atas besarnya potensi sekaligus tantangan industri event di Bali yang memberikan dampak ekonomi masif. 

Di masa depan, mahasiswa tidak hanya dididik menjadi operator atau penyelenggara acara konvensional.

"Program Creative Event Business merupakan transformasi dari Event Management untuk menjawab tantangan zaman," kata dia.

"Saat ini mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki skill teknis, tetapi juga kemampuan inovasi, kreativitas, entrepreneurship dan kemampuan menciptakan peluang kerja baru," imbuh Ganang.

Baca juga: Rakerda Pertama di Bali, APJI Fokus Kawal Pengelolaan SPPG Guna Hindari Keracunan Massal MBG

Di dalam kurikulum terintegrasi yang baru ini, cakupan pembelajaran diperluas secara holistik mencakup pengembangan industri kreatif, experience design, industri hiburan, teknologi event, hingga kewirausahaan berbasis budaya. 

Lulusan diproyeksikan tumbuh sebagai creative event strategist dan inovator yang mampu merancang pengalaman merek di dalam ekosistem ekonomi berbasis pengalaman. 

Esensi dari pembelajaran berbasis proyek tersebut langsung diimplementasikan oleh para mahasiswa melalui pengelolaan rangkaian acara "Growbalization 2026".

Ketua Panitia sekaligus Project Officer Growbalization 2026, Monica Setiawan mengungkapkan bahwa seluruh rangkaian acara ini menjadi laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk mengasah kepemimpinan, komunikasi, dan kerja sama lintas disiplin ilmu.

"Mengangkat tema internal Cloud 9 yang menyimbolkan kebahagiaan universal, perhelatan ini mengombinasikan konsep edutainment yang inklusif," jelasnya. 

Rangkaian kegiatan sebenarnya telah dicicil sejak 25 April 2026 melalui aksi sosial donor darah yang mengumpulkan 27 kantong darah, disusul program campus experience untuk siswa SMA pada 8 Mei 2026.

Pada puncak acara yang dihadiri sekitar 700 pengunjung tersebut, digelar seminar publik bertajuk Break the Fear, Make it Clear yang menghadirkan figur Christian Giacobbe dan Sam Wicahya untuk mengupas tuntas urgensi kemampuan berbicara di depan publik. 

Selain itu, diselenggarakan pula PAWrty Run aktivitas fun run interaktif yang menggandeng komunitas The Dog Club serta panggung konser musik yang menampilkan musisi lokal seperti Hasta, HarmoniA, dan Not So Koplo. (*) 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved