Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Travel

BATASI Kunjungan Turis ke Objek Wisata Pengelipuran, Antisipasi Kerusakan Lingkungan!

Padahal bercermin dari tahun 2024, kunjungan ke objek wisata 'desa terbersih di dunia' ini mencapai 3.000 orang per hari.

Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Atraksi Budaya - Suasana Desa Wisata Pengelipuran, Kabupaten Bangli saat menggelar atraksi budaya, belum lama ini.  

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Objek wisata biasanya selalu menargetkan kunjungan terus, agar meningkat setiap tahunnya.

Namun berbeda dengan Desa Wisata Pengelipuran, Kabupaten Bangli, Bali. Mereka malah membatasi kunjungan hanya 2.000 orang per hari sejak tahun 2025 hingga tahun-tahun ke depan.

Padahal bercermin dari tahun 2024, kunjungan ke objek wisata 'desa terbersih di dunia' ini mencapai 3.000 orang per hari.

Pembatasan ini dilakukan, karena pihak pengelola objek wisata ingin menjaga keseimbangan alam, sosial dan budaya.

Jika tidak ada pembatasan, maka ditakutkan objek wisata berbasis alam ini justru akan rusak, dan bisa ditinggalkan wisatawan. 

Baca juga: Kondisi Cuaca Pengaruhi Kunjungan Wisatawan ke Bali Jelang Libur Nataru 2025/2026

Baca juga: Kalung Emas 20 Gram Raib, Turis India Dijambret di Seminyak, Dua Pelaku Diringkus Polsek Kuta

General Manager Objek Wisata Penglipuran, I Wayan Sumiarsa, Jumat 19 Desember 2025 mengatakan, pihaknya bersyukur, tren wisatawan berkunjung masih sangat stabil.

Di tahun 2025 ini, dirinya menargetkan kunjungan wisatawan per harinya sebanyak 2.000 orang. Kata dia, hal tersebut telah tercapai. 

"Di akhir tahun ini kita harap 900 wisatawan saja yang masuk. Tahun 2024 kemarin, orang masuk di angka 1 juta atau 3.000 per hari. Tahun ini di awal sudah kita targetkan untuk menurunkan di angka 10 sampai 12 persen. Karena kami berpikir terkait keberlanjutan, dan carrying capacity yang hanya 1.500 dan maksimal 2.000 orang per hari," ujarnya.

Tahun 2026, pihaknya tetap memasang target kunjungan 2.000 per hari. "Kita memang butuh pemasukan, tetapi yang utama adalah kita ingin menjaga lingkungan. Jika tiap hari desa kami diinjak oleh 3.000 pengunjung, tentu akan ada dampaknya terhadap tanah kami.

Begitu juga sampah, dengan banyaknya pengunjung maka sampah yang ditimbulkan juga banyak. Kita tak ingin hanya mengejar ekonomi, tapi kami ingin membangun keseimbangan," ujarnya.

Dalam mengatasi jumlah kunjungan melampaui target, pihaknya pun beberapa kali telah melakukan buka tutup objek.

Ketika jumlah parkir penuh, pihak pengelola akan meminta wisatawan untuk terlebih dahulu mengunjungi objek lain di Bangli.

Meskipun ada wisatawan yang komplain. Namun hal tersebut lebih baik, daripada mereka kecewa karena berdesak-desakan di Desa Pengelipuran karena banyaknya pengunjung. 

"Kalau parkir sudah full, kita sampaikan ke wisatawan untuk menunggu di luar Pengelipuran. Kemarin juga kita sudah koordinasi ke pemda, agar ada pengalihan wisata, supaya tidak numplek di Pengelipuran," ujarnya. 

"Prinsip kita adalah mengimplementasikan konsep Tri Hita karena. Kita ingin seimbangkan kondisi alam, sosial budaya dan ekonomi. Dulu leluhur kami dalam membangun desa ini tidak pernah memikirkan ekonomi, hanya kepentingan sosial budaya dan alam. Manfaat ekonomi ini kan baru masuk," ujarnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved