Gunung Agung Terkini

Pandita Mpu Purohita: ‘Beliau’ Isyaratkan Letusan Gunung Agung adalah Fakta yang Tak Bisa Diubah

Salah satu kelebihan dari sosok Pandita Mpu Paramadaksa Purohita adalah kemampuan berkomunikasi dengan para leluhur

Tribun Bali/I Wayan Erwin Widyaswara
Gunung Agung saat mengeluarkan asap setinggi 1500 meter, Sabtu (7/10/2017) dari Pos Pengamatan Gunungapi Agung, Desa Rendang, Karangasem. 

Saat saya bertanya kepada Pak Pandita, terkait dengan posisi Pura Besakih yang masih ramai dikunjungi peziarah dan masuk ke dalam zona bahaya letusan Gunung Agung, Pak Pandita menjawab bahwa ia telah berkomunikasi dengan "Beliau".

Saya tanya kemudian, siapa maksud dengan "Beliau"? Apakah "Beliau" yang dimaksud adalah bukan manusia? Pak Pandita menjawab, "Ya, bukan!"

TRIBUN-BALI.COM- Dalam kepercayaan Hindu Bali, Pandita adalah sosok yang sangat dihormati.

Ia merupakan pemuka agama Hindu, yang punya banyak peran.

Salah satu kelebihan dari sosok Pandita Mpu Paramadaksa Purohita adalah kemampuan berkomunikasi dengan para leluhur.

Pandita kemudian mendapatkan informasi yang berguna terutama untuk keselamatan dan kepentingan para umatnya.

Saya temui Pandita Mpu Purohita. Sesungguhnya pertemuan saya ini tidak sengaja. Karena, awalnya saya tengah menunggu salah satu pemuka agama Hindu di Pura Besakih, Karangasem, Bali, Jro Mangku Suweca.

Baca: Mangku Badra Ungkap Kisah Tragis Pemilik Jono dan Joni yang Setia Temani Pendaki Gunung Agung

Namun, karena masih memimpin doa bagi para umatnya di Pura Besakih, saya pun tetap harus menunggu.

Saya bertanya kepada orang-orang di sekitar pura, yang begitu ramah menerima kedatangan kami, tim Aiman dari KompasTV.

Pertanyaan saya kira-kira seperti ini, "Kapan Jro Mangku selesai memimpin doa?" Sebab, saya menunggu cukup lama dan hari sudah mulai beranjak gelap, sementara kamera TV dan peralatan kami terbatas untuk melakukan wawancara dalam kondisi kurang pencahayaan.

Baca: Live Video Streaming Gunung Agung, Hingga Saat Ini Secara Kasat Mata Tubuh Gunung Tak Terlihat

Salah satu pengurus Pura Besakih kemudian menjawab pertanyaan saya itu, "Kapan saja jika beliau merasa sudah cukup." Saya pun kembali menunggu.

Kemudian ada seseorang yang duduk di dekat saya.

Sebelumnya dari kejauhan saya melihat sosok tersebut begitu dihormati saat masuk ke lingkungan Pura Besakih, yang merupakan pura tertua dan terbesar di Indonesia, lebih dari 1.000 tahun usia Pura Besakih ini.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved