Kenapa Rejang Renteng Mewabah ke Desa-desa?

Banyak krama istri (perempuan) yang menggandrungi Tari Rejang Renteng ini. Lalu apa yang menjadi pemicu tarian ini menyebar?

Kenapa Rejang Renteng Mewabah ke Desa-desa?
Tribun Bali/Rizal Fanany
Ratusan penari membawakan Tari Rejang Renteng Massal dalam rangkaian prosesi melaspas Balai Kul-Kul Banjar Legian Kelod, Desa Legian, Kuta, Sabtu (1/12/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Seperti diketahui, kini keberadaan Tari Rejang Renteng sedang mawabah ke desa-desa.

Banyak krama istri (perempuan) yang menggandrungi Tari Rejang Renteng ini.

Lalu apa yang menjadi pemicu tarian ini menyebar?

Baca: Polsek Kubu Bersih-bersih Sampah Plastik, Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional

Baca: Mbah Mijan Ramal Karier Vanessa Angel Malah Akan Lebih Bagus Usai Keluar Dari Penjara

Menurut Penyarikan Agung Majelis Utama Desa Pakraman (MUDP) Bali, I Ketut Sumarta mengatakan Rejang Renteng atau Ngerenteng atau Ngerejang menyebar di desa-desa karena ada aspek kolosal atau beramai-ramai.

Selain aspek kolosal juga dipengaruhi oleh aspek seragam.

"Ini kan tari yang diadaptasi dari Nusa Penida yang ditarikan oleh jero mangku dengan jumlah sedikit dan sudah tua-tua. Namun Tari Rejang Renteng ini sifatnya kolosal dan ada keseragaman," kata Sumarta dalam workshop Rejang Renteng di Art Center, Kamis (21/2/2019) siang.

Baca: Operator Boat Diduga Buang Oli di Laut, KKP Nusa Penida Telusuri Pencemaran Laut di Perairan Sental

Baca: Luna Maya Tiba-tiba Nangis Sambil Ke Belakang Panggung Saat Dengar Lagu Kejora Tentang Patah Hati

Sehingga hal itu berdampak krama istri sering ke banjar untuk belajar Ngerenteng dan bersemangat.

"Lewat latihan ini juga membangun semangat ingin belajar dari krama istri. Tapi keluhan Bendesa, semua perempuan mau ngayah ngerentang dan tidak mau ngayah yang lain," kata Sumarta.

Rejang Renteng ini juga membangun semangat mencintai kesenian Bali.

Akan tetapi jika ditafsirkan, Rejang Renteng ini dijadikan Tari Wali atau tari yang bersifat sakral sehingga ada konskuensi dan mesti ada hal-hal yang mesti diperhatikan.

Baca: Koster Akui Lakukan Aksi Spontanitas, Ikuti Proses Soal Laporan Kampanye ke Bawaslu

Baca: Menara Astra Menandai 62 Tahun Astra Menginspirasi Negeri

"Jangan sampai seperti barong yang sakral, namun karena pengaruh pariwisata bisa dijual dengan dalih tidak ada pasupati sehingga bisa dijual. Bukankah itu mengaburkan konsep dan prinsip karena adanya pariwisata?" katanya.

Sehingga siperlukan ada kesatuan tafsir tentang Rejang Renteng apa masuk tari Wali, Bebali atau Balih-balihan.

"Mudah-mudahan segera ada kesatuan tafsir apakah Tari Wali, Bebali, atau balih-balihan. Yang patut memutuskan ada Listibya, Majelis Adat, PHDI, Pemerintah dan ahli seni budaya," katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved