Serba Serbi

Tumpek Kandang Otonan Para Binatang, Upacaranya Sama dengan Otonan Manusia, Ini Alasannya

Hari ini merupakan hari selamatan untuk hewan khususnya hewan ternak atau yang biasa kita kenal dengan Tumpek Kandang atau Tumpek Uye

Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Tribun Bali/Rizal Fanany
Upacara Tumpek Kandang di Bali Zoo, Sabtu (20/1). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hari ini, Sabtu (16/3/2019), merupakan hari yang istimewa untuk semua hewan.

Karena hari ini merupakan hari selamatan untuk hewan khususnya hewan ternak atau yang biasa kita kenal dengan Tumpek Kandang atau Tumpek Uye.

Tumpek Uye ini jatuh setiap enam bulan atau 210 hari sekali tepatnya saat Saniscara (Sabtu) Kliwon wuku Uye.

Selain itu, Tumpek Uye ini juga disebut Tumpek Wewalungan atau Oton Wewalungan.

Baca: Ini Daftar 12 Orang yang Dibawa Bersama Romahurmuziy ke Jakarta Terkait OTT KPK di Surabaya

Baca: 7 Manfaat Tak Terduga Mandi Air Dingin di Pagi Hari, Meredakan Flu hingga Mengurangi Stres

Dalam Lontar Sundarigama disebutkan:

Uye, Saniscara Kliwon, Tumpek Kandang, pakerti ring sarwa sato, patik wenang paru hana upadanania, yan ia sapi, kebo, asti, saluwir nia sato raja.

Ini berarti pada Saniscara Uye merupakan Tumpek Kandang untuk mengupacarai semua jenis binatang baik ternak maupun binatang lainnya.

Upacaranya untuk sapi, kerbau, gajah, dan binatang besar lainnya.

Baca: Lahir Sabtu Kliwon Uye, Nikmati Hidup Hingga 102 Tahun?

Baca: Menu Sarapan Sehat Bikin Kenyang Lebih Lama, Cocok Banget Buat Diet!

Disebutkan pula, kalingania iking widhana ring manusa, amarid saking Sang Hyang Rare Angon, wenang ayabin, pituhun ya ring manusa, sinukmaning sato, paksi, mina, ring raganta wawalungan, Sang Hyang Rare Angon, sariranira utama.

Upacara maupun bantennya sama seperti mengupacarai manusia karena binatang-binatang itu dijiwai oleh Sang Hyang Rare Angon.

Manusia itu adalah makhluk utamanya daripada binatang-binatang seperti, burung, ikan, dan sebagainya, demikianlah Sang Hyang Rare Angon menjadikan sarwa binatang sebagai badan utama Beliau.

Untuk upakara yang digunakan juga dijelaskan dalam Lontar Sundarigama.

Baca: Kisah Keberanian Pemuda Masjid Rebut Senjata Pelaku Penembakan di Selandia Baru

Baca: Ramalan Zodiak Hari Ini 16 Maret 2019: Rencana Taurus Berantakan, Libra Bosan dengan Suasana Kantor

Widi-widanania, suci, daksina, peras, penek ajuman sodaan putih kuning, canang lenga-wangi burat wangi, penyeneng pasucian, astewakne ring sanggar, pengarcane ring sang Hyang Rare Angon. Kunang ring sarwa pasu, patik wenang ane pengacinia, yan sopi kebo, widi-widanania, tumpeng sesayut abesik, penyeneng, reresik, jarimpen canang raka, yan bawi lua, tipat belekok, yan sarwa paksi, sato, itik, angsa, puter, titiran, saluwiring tipat sida purna, tipat bagia, tipat pandawe, dulurane penyeneng tatenus.

Artinya:

Banten untuk ternak jantan yaitu tumpeng, sesayut 1, panyeneng, reresik, jerimpen, canang raka, sedangkan banten untuk ternak betina sama seperti ternak jantan hanya ditambah ketipat belekok blayag, pesor dan untuk bangsa burung atau unggas yaitu ketupat kedis, ketupat sidha purna, bagia, penyeneng, tetebus kembang payas.

(*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved