Ngopi Santai
Doa-doa di Tengah Pandemi
TIGA pekan menjalani ibadah di rumah saja melahirkan fakta menarik dan indah. Mengapa menarik?
Penulis: DionDBPutra | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - TIGA pekan menjalani ibadah di rumah saja melahirkan fakta menarik dan indah.
Sebagai misal saya kumpulkan pengalaman umat Kristiani yang baru saja merayakan Tri Hari Suci Paskah 2020.
Mengapa menarik?
Bayangkan, orang Palasari Bali ikut misa via live streaming dari Katedral Ende Flores.
• Mengenal 5 Jenis Meningitis, Penyakit Yang Merenggut Nyawa Glenn Fredly
• WIKI BALI - Ini Informasi Mengenai Alamat Kantor Bank BNI di Daerah Tabanan
• 189.000 Pekerja Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Terdata Diusulkan Terima Kartu Pra Kerja
Orang Manokwari dan Wetar ikut kebaktian via live streaming dari Medan.
Orang Singkawang dan Bontang ikut misa via live streaming dari Katedral Denpasar.
Orang Sumba dan Lombok ikut misa via siaran langsung TV dari Katedral Jakarta.
Orang Manila ikut misa via live streaming dari Dili Timor Leste.
Orang Wolonio, kampung cilik di pedalaman Flores, ikut misa via live streaming yang dipimpin Paus Fransiskus dari Basilika St Petrus Vatikan.
Wow!
“Teman bisa konsentrasi mengikuti misa via live streaming?” tanyaku kepada Agus, kolegaku warga Jakarta yang hari-hari ini menjalani masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diterapkan Pemerintah Provisi DKI.
"Iya bisa. Kan intinya sama," jawabnya yakin.
“Bedanya, kita tidak di dalam gereja serta tidak menyambut komuni,” tambahnya.
Toa dan Naik Becak
Selain ibadah menembus layar dan melampau bahasa, pandemi Covid-19 menuntut manusia berkreasi. Mereka fokus pada peluang bukan mengeluhkan tantangan.