Pujawali di Pura Silayukti Karangasem, Antrian Pemedek Sampai Malam

PURA Silayukti merupakan satu di antara Pura Dang Kahyangan di Bali. Pura ini dipercaya sebagai parahyangan Ida Batara Mpu Kuturan

Editor: Iman Suryanto
Tribun Bali/Saiful Rohim
Suasana Pura PURA Silayukti 

Ribuan pemedek dari beberapa daerah di Bali berjalan beriringan dari area parkir menuju Pura Silayukti, yang letaknya di atas bukit, Desa Adat Padang Bai, Kecamatan Manggis, Karangasem, Rabu (25/6). Mereka datang untuk nangkil di hari Pujawali (Piodalan).

PURA Silayukti merupakan satu di antara Pura Dang Kahyangan di Bali. Pura ini dipercaya sebagai parahyangan Ida Batara Mpu Kuturan, seorang tokoh yang sangat berjasa dalam menata kehidupan sosial religius masyarakat Bali sekitar abad ke-11 Masehi.

Pura Silayukti diduga berasal dari kata dasar ''sila'' diartikan dasar dan ''yukti'' diartikan benar atau kebenaran. Umat yang mamedek di Pura Silayukti itu diharapkan memegang teguh dan menjalankan ajaran kebenaran (agama) yakni Tri Murti Tatwa dan Tri Hita Karana.

Pujawali di pura ini dilaksanakan setiap Buda Kliwon Pahang. Kemarin, yang bertepatan dengan Buda Kliwon Pahang, dilaksanakan Pujawali di Pura Silayukti. Pujawali dijadwalkan berlangsung empat hari. Upacara nyineb dilakukan Sabtu (28/6).

Pada hari pertama Pujawali, kemarin, ribuan pemedek sudah datang untuk nangkil. Pemedek pun harus menunggu giliran untuk bisa masuk pura dan melakukan persembahyangan.

"Saya dari Tabanan. Setiap acara Pujawali saya selalu ke Pura Silayukti bersembahyang. Memang tiap acara Pujawali kondisi pura ramai, malah ramainya kadang sampai tengah malam. Saya sudah sejam lebih menunggu giliran," ujar pemedek asal Tabanan, I Nyoman Kerta.

Sebagai Pura Dang Kahyangan, Pura Silayukti memang di-sungsung oleh seluruh umat. Umat nangkil untuk memohon keselamatan dan memanjatkan rasa syukur kepada Hyang Widhi Wasa.

"Selain itu, rasa syukur juga dipanjatkan kepada Ida Bhatara Mpu Kuturan yang telah menata dan menjaga Bali sebaik mungkin. Ida Bhatara Mpu Kuturan memiliki karya besar yang hingga kini masih relevan untuk Bali. Karya besar itu tentang Desa Pakraman di Bali," ujar Bendahara Pura Silayuti, I Wayan Indriana.

Dalam rangkaian hari pertama Pujawali, dipentaskan tari Sekar Jagat atau tari Pengelembar yang terdiri dari tiga orang. Tarian Rejang Dewa yang anggotanya terdiri dari 14 orang, serta tarian Baris Gede dan tari Topeng Sidakarya.

"Tarian Sekar adalah tarian pembuka acara Pujawali atau piodalan itu sendiri, sedangkan tarian Rejang Dewa merupakan runtutan acara Pujawali. Tarian Rejang Dewa memiliki makna sebagai penyambut kepada para Dewa, tarian ini bagian dari hal yang sakral," ujar Panuraksa Tari, I Komang Nuriyada.

Sebagian pemedek menikmati pertunjukan tarian tersebut. "Senang kalau lihat tarian. Sembari menunggu giliran sembahyang, lihat pertunjukan tari dulu. Saya sudah satu setengah jam menunggu giliran. Hanya saja waktu terasa cepat," ujar pemedek asal Yeh Unda, Klungkung, Ni Wayan Citra.

Pihak Desa Adat Padangbai menerjunkan enam pecalang untuk mengatur para pemedek. Biasanya hanya menugaskan dua orang pecalang.

Untuk mengantisipasi membludaknya para pemedek masuk ke dalam pura, para pecalang pun mensiasati kondisi ini dengan cara menutup gerbang pertama.     

Tujuannya agar di area balai tidak dipenuhi para pemedek. "Soalnya ruang di dalam pura tak terlalu luas, makanya kita atur seperti ini. Jika nanti para pemedek yang nangkil sudah selesai, kita beri giliran kepada pemedek lain untuk masuk ke dalam pura. Begitu seterusnya. Biasanya acara ini selesai sampai tengah malam," ujar seorang pecalang.

Banyaknya pemedek yang nangkil ke Pura Silayukti berimbas sampai area parkir Pelabuhan Padang Bai. Puluhan kendaraan beroda empat terlihat memenuhi area parkir pelabuhan penyeberangan Bali-Lombok tersebut.

"Untung saja, penumpang yang hendak menyeberang menuju Lombok sedikit. Jadi para pemedek yang hendak nangkil ke Pura Silayukti bisa parkir di sini," ujar Security Pelabuhan, I Komang Alit.

Alit menambahkan, parkiran para pemedek di depan pelabuhan sudah penuh. Tak hanya itu, lapangan sepak bola yang terbilang luas pun sudah dipenuhi oleh kendaraan roda dua dan empat. Untuk meminimalisir kemacetan, para pemedek pun diperbolehkan memarkir kendaraannya di area pelabuhan. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved