Peringati Bom Bali 12 Oktober 2014, Cukup Kami yang Menjadi Korban
Tragedi yang membuat banyak orang kehilangan nyawa, keluarga, pekerjaan hingga kehilangan masa depan di seluruh dunia
Penulis: Irma Yudistirani | Editor: Iman Suryanto
TRIBUN-BALI.COM, KUTA - 12 Oktober 2014. Tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan telah berlalu 12 tahun lalu. Tragedi yang membuat banyak orang kehilangan nyawa, keluarga, pekerjaan hingga kehilangan masa depan di seluruh dunia. Dan kini, dampak dari peristiwa itu masih dirasakan sampai saat ini.
"Cukup kami yang menjadi korban, cukup kami yang merasakan pedih atas tragedi itu. Semoga tidak ada tragedi serupa terjadi lagi di negara kita," ungkap ketua pengurus Paguyuban Istri, Suami, dan Anak Korban Bom Bali (ISANA) Dewata, Ni Luh Erniati, di depan puluhan orang yang menghadiri peringatan bom Bali, Monumen Legian, Minggu (12/10/2014).
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan pesan pada pemerintah, instansi terkait, aparat hukum dan masyarakat supaya tragedi serupa tidak pernah terjadi lagi.
Yayasan ini terdiri dari 43 anggota, masing-masing 39 keluarga berasal dari Bali, 3 keluarga dari Jawa, dan satu keluarga berasal dari Kalimantan. Setiap tahun, mereka berusaha menata hidupnya kembali.
Sementara itu, Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, mengungkapkan peringatan itu bukan untuk membangkitkan dendam dan amarah para keluarga korban. Melainkan sebagai bentuk bukti bahwa kekerasan itu tidak berguna dan hanya membawa malapetaka bagi umat manusia.
"Saya paham beberapa korban yang masih hidup, tapi ia menderita cacat permanen. Meski trauma itu tidak bisa dilupakan, saya mengharapkan supaya bisa saling memaafkan," papar Gubernur dalam pidatonya.
Mereka (Para korban dan keluarga korban) harus menggemakan perdamaian pada dunia melalui Yayasan Istana Dewata, yang ia dirikan.
Acara tersebut dihadiri sejumlah keluarga korban berbagai negara, instansi, dan Mantan Panglima Jemaah Islamiyah, M Nasir Abas. (*)