Art and Culture
Cerpen Budi Darma Bermula Dari Mesin Ketik Pinjaman
Di usianya yang telah menginjak 78 tahun, Budi Darma masih mampu dengan jernih mempercakapkan segala hal tentang cerpen.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Cerita pendek dan sosok Prof Dr Budi Darma MA, seperti dua hal yang tak pernah terpisahkan.
Bahkan kini di usianya yang telah menginjak 78 tahun.
Budi Darma masih mampu dengan jernih mempercakapkan segala hal tentang cerpen.
Semangat Budi Darma begitu kuat terasa saat dia menyampaikan gagasannya di depan anak-anak muda peserta workshop cerpen Kompas 2015.
(Kalimat Pertama Cerpen Harus Jelas, Begini Tipsnya)
Energi kreatifnya terus hidup, tidak hanya mewarnai karya-karya, tetapi juga tumbuh dalam diri anak-anak didiknya.
“Saya mengarang atau menulis, bukan karena memang ingin menulis. Tapi karena pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul di dalam hati,” kata Budi Darma, Jumat (22/5/2015) di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar.
Saat kecil, Budi Darma banyak menyaksikan peristiwa-peristiwa yang mengganggu pikirannya.
Ketika itu, dia memang terbilang anak kecil yang suka berkelana kemana-mana, masuk dan keluar kampung.
Pernah suatu kali dia melihat orang-orang berkerumum di dalam sebuah rumah.
Saat pergi ke tempat lainnya, dia kemudian melihat ada bendera bertanda palang merah.
Barulah dia sadar, ternyata ada orang yang meninggal.
“Saya jumpai juga orang-orang yang sakit,” tuturnya.
Pertanyaan itu dia lontarkan kepada ibunya.
“Mengapa ada orang meninggal? Apakah kalau semua hidup dunia ini akan sesak?” katanya meniru ucapannya saat kecil.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/budi-darma_20150524_172623.jpg)