Art and Culture
Cerpen Budi Darma Bermula Dari Mesin Ketik Pinjaman
Di usianya yang telah menginjak 78 tahun, Budi Darma masih mampu dengan jernih mempercakapkan segala hal tentang cerpen.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
Hal serupa juga terjadi saat dia memperhatikan ada seekor tupai yang dikurung.
Dia tidak paham, mengapa tupai itu selalu ingin naik, sementara di dalam sangkar, sang tupai tidak akan pernah berhasil karena terperangkap.
Budi Darma mengatakan, cerpen-cerpen yang ditulisnya selama ini berdasar pada pengalaman itu.
“Pertanyaan tidak akan pernah habis. Dia selalu muncul menjadi sub-sub yang lain,” imbuh peraih penghargaan Pengabdian Cerpen dari Kompas, 2003.
Saat menulis, tidak pernah sekalipun Budi Darma menggunakan draf.
Menurutnya, kerapkali tulisan tidak sesuai dengan rencana yang disusun, sebagaimana pengalamannya saat pertama kali menulis cerpen.
“Dulu, tidak ada barang-barang teknologi secanggih sekarang, seperti komputer atau telepon pintar,” katanya.
Suatu kali, dia diajak ayahnya mengunjungi rumah seorang kerabat.
Di sana dia melihat mesin ketik.
Perhatian Budi Darma tidak bisa lepas dari alat itu.
Segera dia mohon izin memakainya.

Dari mesin tik pinjaman itulah lahir tulisan pertama Budi Darma yang kemudian dipublikasikan di majalah budaya.
“Saat menulis di mesin tik itu, ya, saya langsung tulis saja. Tidak ada draf karena selalu meleset,” tambah Budi Darma bersahaja.
Budi Darma mengumpamakan cara penulisan cerpen itu seperti kondisi yang terjadi di Indonesia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/budi-darma_20150524_172623.jpg)