Melarat di Pulau Surga
Bantuan Material Bangunan Rusak, Sukadana Tak Ada Ongkos Bangun Rumah
Material bangunan itu merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Kelurahan Kaliuntu yang diberikan 2 tahun lalu.
Penulis: Lugas Wicaksono | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Di satu sudut gang sempit Jalan Tekukur, Kelurahan Kaliuntu, Singaraja, Bali, berdiri sebuah rumah berdinding anyaman bambu.
Di bagian depannya tutup pagar yang terbuat dari kawat dan dinding batako yang sebagian telah runtuh.
“Dulunya itu dibuat anak saya untuk toko buat jualan istri saya waktu dapat bantuan bahan bangunan dari pemerintah, tetapi nggak lama sudah runtuh, tinggal sisa tembik depannya saja,” ujar pemilik rumah, Gede Sukadana (50).
Sementara di depan rumahnya terletak pasir dan batako yang sebagian telah patah dan hancur.
Ada pula seng-seng yang telah berkarat dan kayu-kayu yang telah rapuh.
Sukadana mengatakan, material bangunan itu merupakan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng melalui Kelurahan Kaliuntu yang diberikan kepadanya dua tahun silam.
Bantuan material bangunan itu sedianya untuk membedah rumahnya yang berdiri di atas lahan seluas 1,15 are itu.
Namun, ketika itu petugas dari kelurahan hanya memberikan bantuan material bangunan saja dan meminta Sukadana membangun rumahnya sendiri.
Pria ini lantas tidak segera membangun karena keterbatasan biaya.
Satu hari setidaknya ia harus mengeluarkan biaya Rp 150 ribu untuk membangun rumahnya.
“Ongkos tukang saja sehari Rp 100 ribu, masak Rp 50 ribu. Membangun sih membangun, tapi saya masih belum ada ongkos. Saya dulu nggak sampai tanya kenapa nggak sekalian dibangun,” ujarnya.

(Tribun Bali/ Lugas Wicaksono)
Terlebih kuantitas dan kualitas material bangunan bantuan dari pemerintah dirasa masih kurang.
Bahkan, balok kayu bantuan pemerintah hanya bertahan satu bulan karena kualitasnya yang rendah.
“Kalau mengandalkan bantuan material dari pemerintah ini kan masih kurang. Bahannya masih kurang. Kualitas kayu juga saya lihat beda, balok kayu yang diberikan ringan, diangkat sendiri masih bisa, kayu apa itu namanya. Kalau kayu buat bangunan berat, nggak bisa diangkat sendiri. Sekarang sudah nggak ada kayunya sudah hancur dapat sebulan saja, kalau yang ini kayu dapat minta ke orang,” ungkapnya.
Ia mengaku tidak dapat segera membangun rumah karena kondisi perekonomian keluarganya yang tidak menentu.
Ia sendiri kini tidak lagi bekerja karena telah renta dan perusahaan yang mempekerjakannya telah bangkrut.
Sedangkan istrinya, Komang Sridati (45) hanya bekerja sebagai buruh cuci pakaian.
Penghasilannya rata-rata setiap hari hanya Rp 30 ribu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bedah-rumah_20150726_143617.jpg)