Melarat di Pulau Surga
Puluhan Tahun Made Jatu Tinggal di Gubuk yang Sering Bocor
Rumah Made Jatu (40), Banjar Munduk Lumbang, Desa Angseri, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali berupa gubuk. Atapnya ditutup ember supaya tidak bocor.
Penulis: I Made Argawa | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Mengenakan baju jaket warna merah, Made Jatu (40) warga asal Banjar Munduk Lumbang, Desa Angseri, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali, menyapa Tribun Bali.
Pria yang kesehariannya menjadi buruh serabutan dan penebang pohon bambu itu mempersilakan Tribun Bali masuk ke rumahnya.
Rumahnya gubuk.
Ukurannya sekitar 5 x 4 meter.
Lantainya masih terbuat dari tanah liat.
Tampak paling sederhana di antara hunian keluarga lainnya.
“Ya beginilah rumah saya, hanya satu gubuk ini, di sini saya tidur dengan tiga anggota keluarga yang lain, istri dan dua anak,” jelasnya sembari memberikan tempat duduk dari potongan kayu dan mempersilakan duduk di halaman rumahnya, Minggu (2/8/2015).
“Kanggenang nggih (terima saja ya),” ucapnya dalam bahasa Bali sembari mempersilakan duduk.
Made Jatu, mengatakan dirinya telah menghuni rumah tersebut selama puluhan tahun, semenjak ia masih kecil.
Rumah itu peninggalan orang tuanya dan hingga kini belum pernah menerima bantuan perbaikan dari pemerintah, seperti bedah rumah.
“Ya untuk makan saja pas-pasan, penghasilan per hari rata-rata Rp 50 ribu jika ada kerjaan motong bambu, jika tidak kerja serabutan lain, atau ngadas(memelihara sapi orang lain),” paranya.
Pria yang tidak mengenyam bangku pendidikan itu mengaku rumahnya kerap bocor.
Atap yang terbuat dari potongan bambu sering bocor karena air hujan.

(Tribun Bali/ I Made Argawa)
Air hujan itu selalu masuk melalui pipa besi untuk sambungan listrik.
Untuk mengantisipasinya, sebuah ember digantungkan di atap tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/melarat_20150803_193847.jpg)