Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

HUT Kemerdekaan RI

Seorang Pemuda Bali Gugur Saat Peristiwa Tanah Haron

Peristiwa pelarian panjang dilakukan Saputera dkk setelah Belanda menguasai sebagian kawasan Denpasar. Mereka minta bala bantuan tentara di Jawa.

Tayang:
Editor: Irma Yudistirani
Tribun Bali/ I Made Ardiangga
Veteran pejuang Bali, I Gusti Bagus Saputera. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Usai Jepang ditaklukkan saat peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki, sebuah pertempuran terjadi lagi di Bali.

Dimulai saat Belanda pada 1946 kembali datang ke Bali.

Mereka berlabuh di sekitar Sanur.


Diorama perjuangan rakyat Bali melawan Belanda di Monumen Bajra Sandhi, Renon, Denpasar, Bali, Minggu (9/8/2015). (Tribun Bali/ Rizal Fanany)

Karena itu, I Gusti Ngurah Rai membentuk barisan pejuang rakyat pada 4 April 1946 yang bermarkas di Munduk Malang, Tabanan.

Sekitar 2.500 orang menjadi pejuang rakyat.

Di tahun inilah perjuangan dan darah untuk RI ditumpahkan.

Saat itu, Saputera dan 11 temannya yang masih pelajar kemudian menjadi mata-mata di Sanur.


Diorama saat pengibaran bendera merah putih atas kemenangan rakyat Bali melawan Belanda di Monumen Bajra Sandhi, Renon, Denpasar, Bali, Minggu (9/8/2015). (Tribun Bali/ Rizal Fanany)

Mereka berbaur dan berbicara dengan orang Belanda, menyaru sebagai kuli angkut di benteng Belanda.

Informasi hasil pemata-mataan kemudian diberikan kepada I Gusti Ngurah Rai.

Peristiwa pelarian panjang atau long march dilakukan Saputera dkk setelah Belanda menguasai sebagian kawasan Denpasar.

Saputera dkk melakukan pelarian sebagai siasat pengalihan dari incaran Belanda.


Diorama Puputan Badung 1906 menceritakan Raja Badung dan keluargannya serta rakyat Bali bertekad mengusir penjajah di Monumen Bajra Sandhi, Renon, Denpasar, Bali. Minggu (9/8/2015). (Tribun Bali/ Rizal Fanany)

Dari Batukaru Tabanan melewati hutan belantara Buleleng, sejumlah anggota TKR kemudian  ke Bangli hingga gabung dalam pertempuran sengit di Karangasem.

“Pelarian ke hutan itu strategi pengosongan daerah Gilimanuk supaya bala bantuan pejuang dari Jawa bisa tidak kentara jumlahnya saat masuk Bali,” ungkap I Gusti Bagus Saputera, anggota veteran Perintis Kemerdekaan RI (PKRI), pada Tribun Bali

Pelarian itu tidak dengan mudah dilalui oleh Saputera dkk.

Sekitar 8 bulan, dari April sampai November 1946, para anggota TKR berada di hutan.

Pernah terjadi sampai empat hari kelompok Saputera itu kehabisan bekal sehingga memakan apapun yang bisa dimakan di hutan.

“Rakyat di dekat hutan tidak berani memasok makanan. Sebab, kalau ketahuan Belanda, mereka akan dibunuh,” tutur Saputera.

Satu kejadian yang membekas diingatannya ialah peristiwa Tanah Haron.

Ini merupakan kemenangan kecil oleh TKR dengan tewasnya 82 orang NICA.

Sebelum long march, pada 11 April 1946 ada sekitar 2.500 pejuang (200 di antaranya mantan pejuang PETA) menyerbu tangsi Belanda di Kreneng, Denpasar.

Penyerangan itu memakai strategi kirikumi (menyerang tanpa diketahui) yang dipelajari tentara Jepang.

Dilaksanakan pukul 12 malam, kira-kira 45 tentara Belanda tewas dalam penyerangan yang dipimpin oleh Kapten Sugianyar, Letnan Kusumayuda dan Letnan Japa.

Di Singaraja (yang saat itu menjadi ibukota Bali dan Sunda Kecil), kemarahan para pemuda Indonesia mencuat saat kapal-kapal Belanda dengan pasukannya mendarat di sana dan kemudian menurunkan bendera merah-putih di tempat-tempat sekitar pantai pada tahun 1946.

“Merah putih diganti bendera merah, putih dan biru milik Belanda. Para pemuda marah, dan bendera Belanda diturunkan, kemudian merah-putih dinaikkan kembali. Karena begitu seterusnya, Belanda marah, dan membombardir Singaraja. Di peristiwa bendera itu, satu pemuda gugur yakni Ketut Merta,” ungkap Jro Wilaja yang memiliki 6 anak, 11 cucu, dan 9 cicit.

Peristiwa yang juga tidak bisa dilupakan Jro Wilaja ialah saat pasukan NICA dikabarkan datang ke gubuk atau markas para pejuang di tengah malam di Puncak Landep.

Saat itu Jro Wilaja bersama para pejuang karena ia menjadi tenaga medis yang ikut dalam pelarian.

Jro Wilaja dan teman-temannya sedang lelap tidur tatkala tiba-tiba satu informan pejuang memberi kabar kedatangan pasukan Belanda.


Diorama Puputan Badung 1906 menceritakan Raja Badung dan keluargannya serta rakyat Bali bertekad mengusir penjajah di Monumen Bajra Sandhi, Renon, Denpasar, Bali, Minggu (9/8/2015). (Tribun Bali/ Rizal Fanany)

"Bergegas kami merapikan semua dokumen dan barang. Jika satu dokumen atau barang tertinggal, maka bisa saja masyarakat dibunuh oleh NICA karena ada rahasia terungkap," ungkapnya.

"Malam itu kami berjalan tidak tahu ke mana. Jalan terus di bawah malam gelap dan hawa dingin, hingga kelelahan. Saat fajar mulai terlihat, tahu-tahu kami berada di tengah kebun kopi," imbuhnya.

"Saat itu, tidak ada yang pernah berpikir kepentingan diri sendiri. Yang ada adalah semangat bersama mengusir penjajah," tegasnya.

Menurut Gusti Saputera, heroisme para pejuang inilah yang dinilainya tidak menular kepada generasi muda masa kini.

“Pragmatisme merajalela, etika dan idealisme dianggap sudah kuno dan tersisih. Apalagi, Bali yang merupakan tanah dengan kepercayaan Karmapala, keyakinan itu makin luntur,” kata Saputera. (*)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:

Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali

Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved