Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ngaben Massal Jadi Perarem Desa Adat Tabanan

Upacara ritual massal yang digelar Desa Pakraman Tabanan juga banyak diikuti peserta dari desa pakraman lain di sekitarnya seperti dari Penebel, Riang

Penulis: I Made Argawa | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Luh De Dwi Jayanthi
Ilustrasi Upacara Ngaben Massal 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Desa Adat Desa Pakraman Tabanan, Bali memasukkan agenda ngaben massal menjadi perarem desa adat.

Ngaben ini dirancang rutin setiap lima tahun sekali.

Pelaksaan diawali pada tahun 2010 lalu ketika menggelar persiapan Upacara Ngusaba Desa di Desa Pakraman Tabanan.

Saat itu wilayah setra atau kuburan disengker (dipagari) agar proses pelaksanaan upacara berjalan dengan lancar.

"Saat itu saya berpikir perlu adanya penyeimbangan antara parahyangan (tuhan), pawongan (manusia), dan palemahan (lingkungan), dan orang yang sudah meninggal juga berhak untuk ikut ngayah secara niskala, tapi harus terlebih dahulu diaben, dan dicetuskan lah ngaben massal," ujar Bendesa Adat Desa Pakraman Tabanan I Gede Wayan Samba, Kamis (13/8/2015).

Untuk ngaben massal rencana akan digelar pada tanggal 26 hingga 27 Agustus ini adalah periode yang kedua sejak pertama dilaksanakan pada 2010.

Untuk peserta, yang telah terdaftar mencapai sekitar 500-an dan dalam momen itu tidak hanya menggelar upacara ngaben tapi juga potong gigi, nelubulanin, ngerorasin, ngelungah ngelangkir, dan tugtug kelih.

“Untuk biaya paling besar kami kenakan Rp 2 juta untuk upacara ngaben serta ngerorasin dan paling kecil untuk biaya tutug kelih Rp 75 ribu,” ujar pria yang juga menjadi kepala sekolah SMAN 2 Tabanan itu.

Pihaknya desa adat sebenarnya bisa menggratiskan upacara tersebut, tapi Samba berpandangan setiap upacara ritual memang harus tetap mengeluarkan biaya dari pemilik hajatan karena setiap ritual adalah utang dari manusia kepada Tuhan dan leluhurnya.

“Gratis bisa saja, tapi setiap upakara yang kami lakukan sebagai umat Hindu yang berhubungan dengan siklus kehidupan adalah utang,” jelasnya.

Samba berharap, nanti kedepannya pemerintah daerah bisa memberikan perhatian seperti menggelar acara serupa yang sepenuhnya biaya ditanggung Pemkab Tabanan.

Hal itu karena dari upacara ritual massal yang digelar Desa Pakraman Tabanan juga banyak diikuti peserta dari desa pakraman lain di sekitarnya seperti dari Penebel, Riang, dan Angkah.

“Karena lumayan banyak yang menyatakan ingin ikut ini berarti masyarakat di pelosok belum bisa menggelar upacara dan tidak semuanya difasilitasi ngaben massal setempat. Di sinilah peran pemerintah dalam memperhatikan umat,” paparnya.

Ketua Panitia Pengabenan masal I Wayan Wiguna Negara menyebutkan saat ini jumlah peserta yang sudah pasti terdaftar yaitu 122 untuk ritual ngaben dan ngerorasin, ngerorasin 3 peserta, ngelungah 21 peserta, ngelangkir 70 peserta, nelubulanin 229 peserta, tutug kelih 43 peserta, dan metatah 70 peserta.

"Peserta terbanyak untuk upacara ritual ngaben dan ngerorasin," tegasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved