Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Tak Mempan Dibasmi Secara Niskala, Ratusan Tikus Mati Karena Asap di Subak Tabanan

Hiiii, 100 tikus berhasil dibasmi para petani dan para anggota TNI di Tabanan. Inilah yang disebut pengropyokan atau pembasmian tikus.

Tayang:
Penulis: I Made Argawa | Editor: Irma Yudistirani
Tribun Bali/ I Made Argawa
Babinsa Desa Wanasari dan Pekaseh Subak Babakan, I Wayan Yass Giri (kiri), memperlihatkan hasil tangkapan tikus saat pengropyokan, di Desa Wanasari, Kecamatan Tabanan, Bali, sejak pukul 07.30 Wita, Senin (2/11/2015). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Puluhan Krama Subak Babakan, Desa Wanasari, Kecamatan Tabanan, Bali bersama 20 anggota TNI Koramil 1619-01/ Tabanan tampak berkumpul di balai subak setempat, sejak pukul 07.30 Wita, Senin (2/11/2015).

Mereka berkumpul untuk melakukan pengropyokan atau pembasmian tikus di areal subak seluas sekitar 48 hektare.

Perbekel Desa Wanasari, Ida Bagus Komang Widiana, memaparkan pengropyokan dilakukan setelah upaya secara niskala (Tidak berwujud) tidak berhasil meredam serangan tikus.

Tikus-tikus ini telah menyerang subak Babakan pada musim tanam periode kedua di tahun 2015 atau sejak bulan Agustus.

Langkah niskala yang dilakukan adalah matur "piuning" ke pura Puseh Wanasari, Puri Tabanan, Pura Pekendungan, Pura Luhur Batukaru, Pura Batu Lumbung, dan Pura Pesimpangan Besakih.

‘’Langkah niskala ini untuk memohon pengurangan hama tikus. Tetapi ternyata hama tikus tetap ada dan merajalela sehingga diambil langkah pengropyokan,’’ ujar Widiana.

Ia melanjutkan, tikus mulai menyerang subak-subak di Desa Wanasari pada bulan Agustus lalu.

Akibatnya panen petani hanya berhasil sekitar 50 sampai 60 persen dan sisanya habis dirusak dan dimakan tikus.

"Desa Wanasari ada tiga subak, yaitu Subak Periukti, Subak Babakan dan Subak Gunggunan. Semuanya diserang tikus dan baru dua subak yang menggelar pengropyokan yaitu Subak Periukti dan Subak Bakbakan," ujarnya.

Pekaseh Subak Babakan, I Wayan Yasa Giri, mengatakan subaknya memiliki luas lahan 48 hektare dengan 120 orang krama subak.

Sistem pengropyokan dilakukan untuk mengurangi populasi tikus di subak Babakan.

Sehingga padi di musim  tanam mendatang tidak dirusak oleh binatang yang juga disebut dengan jro ketut ini.

‘’Langkah antisipasi untuk meredam populasinya sehingga saat jelang musim tanam nanti, jumlahnya setidaknya berkurang dan kerusakan pada tanaman padi tidak terjadi,’’ jelas Yasa Giri.

Pihaknya telah melakukan antisipasi dengan menghimbau petani untuk memasang perangkap berisi racun saat mengetahui adanya serangan tikus di subak Periukti.

‘’Sewaktu dengar ada serangan tikus SPeriukti, saya himbau petani untuk pasang racun. Ternyata tidak mempan dan panennya hanya berhasil sekitar 50 sampai 60 persen,’’ ujarya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved