Uniknya Ngusaba Kaulu di Karangasem, Sayo Ramai-ramai Tebas Sapi untuk Keselamatan
Apabila saat pelepasan, sapi lari ke arah utara, maka kesuburan akan menghampiri. Jika sapi lari ke arah selatan maka simbol kemakmuran, kesejahteraa
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Hingga sekarang belum ada sayo yang menebas mengenai kepala dan ekornya.
Setelah sapi di-sepeg, dagingnya akan dihaturkan untuk prosesi pecaruan.
Lalu dimakan teruna-teruni Desa Adat sebagai simbol kesenangan.
“Sebelum dimakan, dagingnya dihaturkan dulu ke Pura Patokan untuk ritual,” imbuhnya.
Bagi krama Desa Adat Asak ini memiliki makna begitu dalam.
Ngusaba Kaulu bermakna sebagai prosesi ritual untuk menyeimbangkan alam semesta dunia.
Prosesi ini mencerminkan pengorbanan Nandini kepada Syiwa dengan sapi jantan.
Sebelum sapi ditebas maka terlebih dahulu dihias dan dimandikan.
Hal itu dilakukan demi kesucian sapi.
“Ini untuk keseimbangan alam semesta dan kepentingan umat manusia,” jelas Sutha.
Apabila saat pelepasan, sapi lari ke arah utara, maka kesuburan akan menghampiri.
Jika sapi lari ke arah selatan maka simbol kemakmuran, kesejahteraan, dan kebijaksanaan.
Arah timur simbol kebahagian, dan arah barat simbol dari kegelapan.
“Tadi sapi lari ke arah selatan. Saya yakin kesejahteraan dan kemakmuran akan menghampiri umat manusia. Saya juga yakin pemerintahan teratur,” jelasnya.
Ia berharap setelah menggelar Ngusaba Kaulu umat manusia semakin sejahtera dan makmur.
Alam semesta yang kini ditempati menjadi seimbang.
Setelah ini, krama desa akan menggelar rangkaian Ngusaba Kaulu berupa persembahyangan di Pura Patokan Teruna.
Menurutnya ritual ini, dana murni dari pemuda Desa Asak.
Jumlah warga sebanyak 1.327 jiwa yang terdiri dari dua banjar yaitu Banjar Asak Kangin dan Asak Kawan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sayo-menebas-sapi_20160115_113740.jpg)