Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Melarat di Pulau Surga

Sarimin Tinggal di Gubuk Beratap Terpal Setelah Setahun Digusur Dari Danau Tamblingan

Sampai sekarang saya tidak tahu di mana tanahnya yang dijanjikan ke kami. Saya tidak menagih tanah itu, buat apa menagih janji yang tidak ada

Penulis: Lugas Wicaksono | Editor: Eviera Paramita Sandi
Tribun Bali / Lugas Wicaksono
Kedua cucu Sarimin di gubuknya Banjar Dinas Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, Senin (11/4/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Dua cucu Nyoman Sarimin (60) tidur-tiduran di atas kasur busa tipis dalam gubuk sederhananya di Banjar Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, Senin (11/4/2016) siang.

Gubuk itu berdinding triplek dan seng, beratapkan terpal dan tongkat kayu yang berfungsi sebagai tiang penyangga.

Luasnya sekitar 12x6 meter dengan menempati tanah pinjaman sementara dari orang lain.

Sehari-hari nenek itu tinggal di dalam gubuk itu bersama dua anak serta menantunya dan empat cucunya. Ada dua kamar di dalamnya sebagai tempat untuk tidur.

Sarimin sudah setahun ini menempati gubuk sederhananya bersama keluarga sejak rumahnya di pinggir Danau Tamblingan digusur secara paksa pada 25 April 2015 lalu.

Kini pemilik tanah yang ditempatinya akan meminta kembali tanah itu dan nenek renta itu bersama keluarganya masih belum tahu ke mana harus tinggal.

Siang itu, Sarimin yang sehari-hari berprofesi sebagai nelayan di Danau Tamblingan masih berjualan ikan keliling.

Dua anak dan menantunya masih mencari ikan di danau.

Kini dari 22 kepala keluarga (KK) yang digusur, 13 KK di antaranya tinggal di Banjar Tamblingan secara terpisah.

Sisanya tinggal secara berpencar.

Mereka menumpang di atas tanah milik teman dan orang lain.

Komang Pariadi (39) yang juga korban penggusuran tingal 100 meter dari gubuk yang ditempati Sarimin.

Ia tinggal bersama istrinya, Luh Riami (38) dan tiga anaknya, Desy Natalia (11), Kadek Ariananta (6), dan Komang Tri Samanta (3).

Pariadi lebih beruntung dari Sarimin karena masih bisa membangun rumah semi permanen di atas tanah temannya seluas dua are.

Kini ia sehari-hari bekerja sebagai nelayan dan pemandu wisata di danau.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved