Jejak Jejak Sang Jenderal
Wanita Hebat di Sisi Sang Jenderal, Tugas Berat Terasa Ringan, Karier pun Meningkat
Pernikahan Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri, membuat Made Mangku Pastika semakin bergairah menjalani hidup.
Pengalaman itu pula, yang membekali Made Mangku Pastika ketika bertugas di Indonesia, dengan berbagai jenjang karier yang telah ia lewati. Bahkan ketika ia berhasil menjadi Ketua Tim Investigasi Bom Bali, keberhasilannya tidak serta merta datang begitu saja, melainkan sebuah jejak panjang dari pengalaman yang telah ia lakukan.
Sekembalinya dari Afrika, Made Mangku Pastika mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ABRI lanjutan di SESKOAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) di Bandung selama sebelas bulan, tahun 1990-1991.
Dalam jenjang pendidikan itu, lagi-lagi MMP mendapatkan pengetahaun dan pengalaman yang unik, karena sebagai Perwira Polisi, seharusnya ia melanjutkan pendidikan di SESPIMPOL, bukan di SESKOAD. Tapi itulah kehidupan Made Mangku Pastika, selalu tak terduga, dan banyak kejutannya.
Selesai pendidikan SESKOAD, Made Mangku Pastika bertugas di Ujung Pandang (Makasar), sebagai Kepala Bagian Reserse Ekonomi, Polda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Jabatan itu diemban kurang lebih delapan bulan.
Pada tahun 1993, Made Mangku Pastika kembali mendapat kesempatan belajar ke luar negeri yaitu ke Australia di AFP College, Canberra – dengan pokok bahasan Management of Seriouse Crime, bersama-sama dengan para perwira senior AFP (Australian, Federal Police).
Hubungan baik dengan para perwira AFP ini, ditambah dengan ilmu penyidikan kasus-kasus besar dan serius yang dipelajari di AFP Managemant College, salah satu yang telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengungkap kasus bom Bali dan kasus-kasus teror lainnya.
Daerah Konflik
Selain kenangan di Afrika dan tugas-tugas lainnya, kenangan yang juga mendapat catatan dalam kehidupan Made Mangku Pastika adalah ketika ia menginjakkan kakinya kembali ke Timor Timur pada 1 Uuni 1999, di sana ia bertugas sebagai Komandan Kontingen Lorosae, BKO Polda Timor Timur, sekaligus sebagai Chief Liason Officer antara Polri dengan UNAMET (United Nations Mission in East Timor).
Made Mangku Pastika berada di Timor Timur sampai tanggal 30 Oktober 1999, yaitu ketika Kontingen RI terakhir meninggalkan Tim-Tim karena ketika itu diserahkan ke PBB. Pada hari itu, sang merah putih diturunkan dari Markas Komando Pasukan ABRI. Itulah terakhir kalinya sang saka merah putih berkibar di bumi Timor Lorosae.
Saat bendera merah putih diturunkan di Tim-Tim, Made Mangka Pastika tak kuasa menahan sedihnya. Ia sempat menitikkan air mata, perasaannya campur aduk antara sedih dan marah ketika melihat kenyataan terlepasnya bagian NKRI yang telah menyatu dengan Ibu pertiwi dalam suka maupun duka selama 23 tahun.
Peristiwa tersebut memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia umumnya, dan bagi Made Mangku Pastika sendiri khususnya, juga bagi para pemimpin negeri, bagaimana agar tetap menjaga keutuhan NKRI. Karena kekuatan bangsa ini adalah persatuannya. Kebhinekaan tunggal itu adalah sebuah pemahaman yang harus dihayati oleh seluruh anak bangsa.
Tugas demi tugas Made Mangku Pastika jalani dengan semangat juang kepemimpinan yang harus menjaga harkat dan martabat bangsa. Tugas yang cukup berkesan juga terjadi ketika ia sebagai Kapolda Nusa Tenggara Timur pasca kerusuhan di Atambua.
Problem para pengungsi Tim-Tim yang memuncak dengan adanya Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang keamanan di NTT.
Kapolri menugaskan Made Mangku Pastika untuk dapat menyelesaikan semua persoalan keamanan, termasuk penyidikan kasus Atambua yang menewaskan tiga petugas UNHCR, pelucutan senjata para milisi eks Tim-Tim, dan perusakan gedung DPRD NTT. Tugas itu mampu Made Mangku Pastika selesaikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, karena pada saat itu Indonesia mendapat tekanan dari dunia internasional.
Hasil kerja Made Mangku Pastika dalam menyelesaikan masalah Atambua, mendapatkan apresiasi dari pimpinan. Ia dianggap sangat mampu menangani berbagai permasalah yang terjadi di Atambua.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/casko-wibowo-dan-artis-sinetron-ayudia-bing-slamet_20160521_152507.jpg)