Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Jejak Jejak Sang Jenderal

Wanita Hebat di Sisi Sang Jenderal, Tugas Berat Terasa Ringan, Karier pun Meningkat

Pernikahan Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri, membuat Made Mangku Pastika semakin bergairah menjalani hidup.

Tayang:
Istimewa
Sutradara Muda Indonesia Casko Wibowo dan Artis Sinetron Ayudia Bing Slamet 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Duet Penulis Novel Lusiana Sanato & Sutradara Muda Indonesia Casko Wibowo sedang menjadi Pembicaraan Netizen lagi, yang pertama karena Pemberitaan Besar besaran diseluruh Media Nasional di Jakarta tentang Novel yang mereka buat pada November tahun lalu untuk seorang Tokoh Jendral dari Bali yang berjudul “Romantika Sang Jendral”, kini hebohkan lagi dengan penulisan Otobiografi Sang Jendral yang berjudul “ Jejak Jejak Sang Jendral”.

Lusiana sanato yang juga Istri dari Konsulat Srilangka Eswanty Sanato ini mengatakan, “Saya sebagai Penulis dan Casko Wibowo sebagai Produser & Sutradara merencanakan bedah buku dan launching buku otobiografi ini pada awal bulan Juni mendatang , sedang kegiatan saya saat ini disela sela waktu senggang, saya tetap menulis skenario untuk persiapan pembuatan produksi Film Layar Lebarnya.”


Penulis Novel Lusiana Sanato

Wanita cantik yang juga pengusaha ini mengatakan lagi, ada satu hal “Heboh” yang kebetulan terjadi dalam proses penulisan hingga Produksi Film Teaser yang mereka buat,apa itu ?

Ternyata  nama dari istri Sang Jendral yang bernama Ni Made Ayu Putri Pastika   dan nama Artis  Pemeran Utama di Film Teaser yaitu Artis Sinetron Ayudia Bing Slamet adalah sama sama bernama “Ayu “.

Lusiana Sanato menambahkan, Artis Ayudia Bing Slamet dipilih dalam casting oleh Casko Wibowo untuk memerankan tokoh Ni Made Ayu Putri di dalam cerita di Film Teaser Novel ini yang berperan sebagai istri Sang Jendral.

Ada kesamaan dan perbedaan antara Ibu Ayu Putri Pastika sebagai tokoh yang di perankan dan Ayudia Bing Slamet sebagai pemain yang memerankan.

Kesamaannya adalah sama-sama wanita cantik, kalau perbedaannya adalah yang satu Istri dari Gubenur Bali sedang yang satu adalah Artis Sinetron dari Jakarta, Canda Lusiana.

Casko Wibowo dalam hal ini menilai Ayudia Bing Slamet telah sukses membawakan peran sebagai  Ayu Putri Pastika ketika berusia muda, yaitu memerankan wanita muda yang tabah dan kuat menghadapi kerasnya sebuah perjalanan dan perjuangan hidup menjadi istri seorang Perwira Pertama Polisi.

Di sini saya sebagai sutradara memvisualisasikan sebuah script yang  sangat menyentuh hati yang  skenarionya ditulis oleh ibu Lusiana  dalam sebuah dialog dalam film tersebut yaitu dialog yang diucapkan oleh Ayudia Bing Slamet , “Ternyata sebagai istri seorang perwira polisi itu tidak seperti yang dibayangkan orang, bahkan untuk memberi makan anak pun  harus dengan  nasi, minyak kelapa dan garam”.   

Saya jamin semua orang yang membaca dan melihat film ini akan bisa turut merasakan dan hanyut terbawa rasa piluh yang dalam, bagaimana kerasnya kehidupan dan perjuangan  dahulunya dari seorang  Ayu Putri Pastika yang kini menjadi seorang istri yang mendampingi  suaminya I Made Mangku Pastika,yaitu Sang Jendral yang kini menjadi Gubenur memimpin Bali saat ini.

Made Mangku Pastika mengakui, semua berawal dari keluarga. Dari keluarga pula, langkah kehidupan ke depan dipersiapkan. Dengan menikahi Ni Made Ayu Putri, Made Mangku Pastika telah menentukan kehidupan masa depannya. Dan  ia berharap, langkah inilah yang membuatnya bisa menjalani dan mengarungi kehidupan bersama orang yang dicintainya.

Pernikahan Made Mangku Pastika dan Ni Made Ayu Putri, membuat Made Mangku Pastika semakin bergairah menjalani hidup. Berbagai tugas yang dijalani terasa ringan selama Ni Made Ayu Putri mendampingi dirinya. Dan sekarang, Ni Made Ayu Putri adalah pemberi semangat hidupnya.

Tugas-Tugas

Sebelum menikah dengan Ni Made Ayu Putri, karier Made Mangku Pastika di dunia kepolisian pertama kali bertugas sebagai Perwira Polisi dan sebagai Komandan Peleton 1 Kompil, Batalyon B Brimob Polda Metro Jaya yang berkedudukan di Kelapa Dua, Depok. Beberapa bulan kemudian, yaitu pada tangal 5 Desember 1975, Made Mangku Pastika beserta Batalyonnya bertugas ke Timor Portugis, (Pada waktu itu namanya belum Timor Timur, dan kini setelah lepas dari Indonesia menjadi Timor Leste).

Made Mangku Pastika bertugas di Timor Portugis sampai Juli 1976, sesaat sebelum berintegrasinya Timor Portugis dengan NKRI dan menjadi Provinsi ke -27 dengan nama Timor Timur. Bergabungnya provinsi ke 27 – Timor Timur dengan Indonesia itu,  Made Mangku Pastika memiliki peranan yang sangat penting, karena saat itu ia tengah bertugas di sana.  Dengan begitu, Made Mangku Pastika sangat tahu, bagaimana proses terjadinya integrasi tersebut.

Sekembalinya dari Timor Portugis, Made Mangku Pastika kembali bertugas di Kesatuan Brimob di Jakarta. Lalu pada tanggal 23 Februari 1977, barulah Made Mangku Pastika menikah dengan Ni Made Ayu Putri.

Ketika sudah menikah, Made Mangku Pastika tidak ingin hanya menjadi polisi biasa, kariernya di polisi ingin ditingkatkan. Maka Made Mangku Pastika mengikuti beberapa test ujian untuk dipilih sebagai Ajudan Menhankam Pangab. Hal ini ia lakukan untuk meningkatkan jenjang kariernya di dunia kepolisian. Karena Made Mangku Pastika setelah menikah ingin menyiapkan masa depan untuk keluarganya.

Setelah melalui rangkaian test, seperti biasa, Made Mangku Pastika mendapatkan penilaian yang terbaik di antara para peserta lainnya, dan ia pun dengan lancar masuk menjadi ADC Menhankam/Pangab, Jenderal TNI Maraden Pangabean. Tepat pada bulan Oktober 1977, tugas itu Made Mangku Pastika emban. Tugas itu dijalani dengan penuh tanggung jawab, karena dukungan dari keluarga pun memang membuat Made Mangku Pastika semakin giat dalam bekerja.

Tugas sebagai Ajudan Menhankam/Pangab dilalui Made Mangku Pastika hingga tahun 1981. Selama empat tahun itulah, masa pergaulan Made Mangku Pastika di jajaran pejabat militer dan kepolisian.  Sebagai Perwira Muda ABRI, Made Mangku Pastika belajar banyak hal dari penugasan tersebut. Dari mulai hal-hal yang menyangkut persoalan Militer dan Polri, sampai kepersoalan-persoalan politik nasional dan internasional.

Mulai dari persoalan-persoalan praktis sampai persoalan-persoalan strategis, termasuk masalah hubungan antar bangsa dan politik luar negeri.

Belajar Dari Pengalaman

Bukan hanya itu, pada kesempatan tugas tersebut, Made Mangku Pastika juga belajar mengenal dan menghayati etika pergaulan di tengah-tengah keluarga yang bersifat etnis primodial, sampai kepada tata cara pergaualan diplomatis bertaraf internasional, dengan tetap berpegang teguh pada jati diri bangsa yang bermartabat, tanpa harus minder atau rendah diri. Tata cara pergaulan itulah yang membuat Made Mangku Pastika secara personal bukan hanya mengalami peningkatan karier, tetapi juga peningkatan eksitensi diri. Semua dijadikan pelajaran melalui pengalaman.

Pada tahun 1982, Made Mangku Pastika menjadi ADC Menko Polkam RI, lalu penugasan tersebut berakhir, karena Made Mangku Pastika harus melanjutkan pendididikan ke PTIK untuk dapat meniti karier selanjutnya pada Polri.

Made Mangku Pastika menyelesaikan pendidikan di PTIK pada tahun 1984, dengan predikat lulusan terbaik. Lalu selanjutnya bertugas menjadi Kepala Sub Dinas Pencurian Berat Reserse Polda Metro Jaya.

Dan pangkat Made Mangku Pastika waktu itu sudah  Mayor Polisi.  Tugas pokoknya adalah menangani kasus-kasus pencurian, perampokan, dan kejahatan-kejahatan keras lainnya. Kesatuannya dikenal dengan nama TEKAB (Tim Khusus Anti Bandit) yang bertugas siang malam di seantero Jakarta dan sekitarnya, melumpuhkan kelompok-kelompok penjahat yang sering mengacau Jakarta Raya.

Tugas Made Mangku Pastika di Sub Dinas Pencurian Berat Reserse Polda Metro Jaya hanya setahun. Lalu selanjutnya ia menjabat menjadi Kepala Unit Harta Benda Reserse POLDA Metro Iaya, dari tahun 1985-1986.

KAPOLSEK Tambora, Jakarta Barat, 1986-1988, Kepala Satuan Penyidikan Vice Control MABES POLRI, 1988-1989, Kontingen Garuda IX/Namibia, Afrika, 1989-1990, Kepala Bagian Reserse Ekonomi POLDA Sulselra (Letkol Pol.), 1991-1992, Kepala Satuan Penyidikan Perbankan, MABES POLRI, 1992-1994, KAPOLRES Jakarta Barat, 1994-1995, Wakil Asisten Perencanaan POLDA Metro laya, 1995-1996,  Kepala Departemen KERSIN NCB/INTERPOL (Kolonel Polisi), 1997, Direktur Reserse Ekonomi MABES POLRI. 1997-1999, Penugasan Operasi BKO POLDA Timor-Timur Dalam Rangka Jajak Pendapat Chief Liaison Officer POLRI UNAMET, Dili Timor-Timur tahun 1999, Dir. Serse Tipiter Mabes POLRI (Brigjen Pol.) 1999-2000, Sekretaris NCB/INTERPOL, 2000, KAPOLDA NTT, 2000-2001, KAPOLDA IRIAN JAYA (Irjen PoI), 2001-2002, Ketua Tim Investigasi Bom Bali, 2002, Wakil Kepala Badan Reskrim POLRI, 2002-2003, KAPOLDA BALI, 2003-2005,  Kepala Pelaksana BNN RI (Komjen. Pol), 2005-2008.

Dari berbagai tugas yang telah Made Mangku Pastika jalankan, ada kenangan yang tidak bisa dilupakan ketika Made Mangku Pastika ditugaskan ke Afrika Barat Daya, sebagai anggota Kontingen Garuda IX selama sembilan bulan  pada tahun 1988, dimana Made Mangku Pastika bertugas di distrik Windhoek, Ibu Kota Namibia, sebagai Komando untuk wilayah Katutura dan Komasdal.

Wilayah tersebut adalah wilayah konflik, senantiasa bergolak setiap saat, karena merupakan basis pro-independen dan kediaman para pemimpin kulit hitam, termasuk calon Presiden Namibia, Sam Nujoma.

Penugasan di Afrika itu memberikan pengalaman yang sangat berharga bagi Made Mangku Pastika karena mendapat kesempatan bergaul dan memimpin para polisi dari berbagai bangsa dan negara, dengan berbagai karakter, kebiasaan, dan tingkat profesionalisme yang sangat bervariasi.

Pengalaman itu pula, yang membekali Made Mangku Pastika ketika bertugas di Indonesia, dengan berbagai jenjang karier yang telah ia lewati. Bahkan ketika ia berhasil menjadi Ketua Tim Investigasi Bom Bali, keberhasilannya tidak serta merta datang begitu saja, melainkan sebuah jejak panjang dari pengalaman yang telah ia lakukan.

Sekembalinya dari Afrika, Made Mangku Pastika mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan ABRI lanjutan di SESKOAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) di Bandung selama sebelas bulan, tahun 1990-1991.

Dalam jenjang pendidikan itu, lagi-lagi MMP mendapatkan pengetahaun dan pengalaman yang unik, karena sebagai Perwira Polisi, seharusnya ia melanjutkan pendidikan di SESPIMPOL, bukan di SESKOAD. Tapi itulah kehidupan Made Mangku Pastika, selalu tak terduga, dan banyak kejutannya.

Selesai pendidikan SESKOAD, Made Mangku Pastika bertugas di Ujung Pandang (Makasar), sebagai Kepala Bagian Reserse Ekonomi, Polda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Jabatan itu diemban kurang lebih delapan bulan.

Pada tahun 1993, Made Mangku Pastika kembali mendapat kesempatan belajar ke luar negeri yaitu ke Australia di AFP College, Canberra – dengan pokok bahasan Management of Seriouse Crime, bersama-sama dengan para perwira senior  AFP (Australian, Federal Police).

Hubungan baik dengan para perwira AFP ini, ditambah dengan ilmu penyidikan kasus-kasus besar dan serius yang dipelajari di AFP Managemant College, salah satu yang telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam mengungkap kasus bom Bali dan kasus-kasus teror lainnya.

Daerah Konflik

Selain kenangan di Afrika dan tugas-tugas lainnya, kenangan yang juga mendapat catatan dalam kehidupan Made Mangku Pastika adalah ketika ia menginjakkan kakinya kembali ke Timor Timur pada 1 Uuni 1999, di sana ia bertugas sebagai Komandan Kontingen Lorosae, BKO Polda Timor Timur, sekaligus sebagai Chief Liason Officer  antara Polri dengan UNAMET (United Nations Mission in East Timor).

Made Mangku Pastika berada di Timor Timur sampai tanggal 30 Oktober 1999, yaitu ketika Kontingen RI terakhir meninggalkan Tim-Tim karena ketika itu diserahkan ke PBB. Pada hari itu, sang merah putih diturunkan dari Markas Komando Pasukan ABRI. Itulah terakhir kalinya sang saka merah putih berkibar di bumi Timor Lorosae.

Saat bendera merah putih diturunkan di Tim-Tim, Made Mangka Pastika tak kuasa menahan sedihnya. Ia sempat menitikkan air mata, perasaannya campur aduk antara sedih dan marah ketika melihat kenyataan terlepasnya bagian NKRI yang telah menyatu dengan Ibu pertiwi dalam suka maupun duka selama 23 tahun. 

Peristiwa tersebut memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia umumnya, dan bagi Made Mangku Pastika sendiri khususnya,  juga bagi para pemimpin negeri, bagaimana agar tetap menjaga keutuhan NKRI. Karena kekuatan bangsa ini adalah persatuannya. Kebhinekaan tunggal itu adalah sebuah pemahaman yang harus dihayati oleh seluruh anak bangsa.

Tugas demi tugas Made Mangku Pastika jalani dengan semangat juang kepemimpinan yang harus menjaga harkat dan martabat bangsa. Tugas yang cukup berkesan juga terjadi ketika ia sebagai Kapolda Nusa Tenggara Timur pasca kerusuhan di Atambua.

Problem para pengungsi Tim-Tim yang memuncak dengan adanya Resolusi Dewan Keamanan PBB tentang keamanan di NTT.

Kapolri menugaskan Made Mangku Pastika untuk dapat menyelesaikan semua persoalan keamanan, termasuk penyidikan kasus Atambua yang menewaskan tiga petugas UNHCR, pelucutan senjata para milisi eks Tim-Tim, dan perusakan gedung DPRD NTT. Tugas itu mampu Made Mangku Pastika selesaikan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, karena pada saat itu Indonesia mendapat tekanan dari dunia internasional.

Hasil kerja Made Mangku Pastika dalam menyelesaikan masalah Atambua, mendapatkan apresiasi dari pimpinan. Ia dianggap sangat mampu menangani berbagai permasalah yang terjadi di Atambua.

Made Mangku Pastika sendiri merasa, apa yang dilakukannya itu berkat kerja keras tim dan juga dukungan dari segenap elemen terkait. Dari mulai aparat pemerintahan setempat, baik sipil maupun militer, serta partisipasi masyarakat yang memang menginginkan Atambua menjadi aman.

Dengan kerja profesional yang dilakukan Made mangku Pastika, semua tugas diselesaikan dengan baik. DK PBB merasa puas resolusi pun dicabut. Situasi keamanan berangsur-angsur pulih kembali, dan kehidupan masyarakat kembali normal. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved