Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Pesta Kesenian Bali

Penari Legong Semara Pegulingan Kerauhan di PKB

Diceritakan roh Raja Pandu dan Dewi Madri yang telah meninggal dunia masih belum bisa terbebas dari api kawah Candra Goh Muka.

Tayang:
Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Seorang penari legong kerauhan roh yang ditarikannya, Selasa (21/6/2016) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pementasan yang digelar Sanggar Seni Gita Lestari, Banjar Patolan, Desa Pering, Blahbatuh, Gianyar, Bali di panggung Kalangan Angsoka, Pesta Kesenian Bali (PKB) sukses menghibur penonton, Selasa (21/6/2016).

Pertunjukan tarian kreasi semara pegulingan ini membuat kagum penonton.

Saking menghayati peran dalam pementasan, seorang penari legong sampai kerauhan roh yang ditarikannya.

Diceritakan roh Raja Pandu dan Dewi Madri yang telah meninggal dunia masih belum bisa terbebas dari api kawah Candra Goh Muka.

Para penaripun meliak-liukkan badannya, menari ke sana ke mari sebagai tanda akan panasnya kawah api neraka.

Ketua Sanggar Seni Gita Lestari, I Ketut Darya menjelaskan, pagelaran tari kreasi yang dibawakan ini untuk mencintai seni tersebut lebih dari diri sendiri.

Dijelaskannya, seni membuat keagungan, kelembutan, dan kelanggengan daripada kehidupan masyarakat Bali.

“Kami mempertahankan dan mencintai tanah kelahiran. Semua menyangkut di sini. Seni bisa menyatukan masyarakat menjadi damai. Seni itu membuat keagungan, kelembutan, dan kelanggengan,” ujarnya.

Cerita Tari Kreasi Angkus Purana yang dibawakan pada pementasan terakhir sekaanya mengamanatkan pesan yang sangat mendalam.

Diceritakan bahwa Dewi Kunti bermimpi didatangi oleh roh Raja Pandu dan Dewi Madri yang memohon kepada Dewi Kunti untuk melaksanakan upacara Pitra Yadnya atau menyupat roh Maha Raja Pandu dan Dewi Madri.

Hal ini dilakukan karena roh mereka masih berada di kawah Candra Goh Muka.

Dewi Madripun meminta anaknya Panca Pandawa untuk berangkat dan hanya Bimalah yang sanggup berangkat menuju Yamadiloka.

Namun Kunti meminta Bima mengajak keempat saudaranya, dan dengan kekuatan  Angkus Purana roh Pandu dan Madri dapat diselamatkan.

“Dewi kunti bermimpi Pandu dan Dewi Madri kenapa terlalu lama berada ditempat kotor. Akhirnya ia meminta anaknya menyelamatkan Atma Pandu dan Madri. Tetapi hanya Bima yang bisa, tetapi ia diminta mengajak saudara-saudaranya. Akhirnya mereka berlima berhasil, itulah bakti dan kesetiaan kepada orangtua. Ini memperlihatkan ayah dan anak selalu berkaitan. Sekarang banyak anak durhaka, inilah sebagai pedoman menghormati kepada orangtua,” ujarnya.

Dikatakannya, penari dari Sanggar Gita Lestari merupakan siswa dari SMKN 3 Sukawati.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved