Eksekusi Mati Diiringi Hujan dan Petir, Keluarga Terpidana Mati Sudah Pasrah
Hujan deras disertai angin kencang dan dentuman petir bersahut-sahutan di angkasa.
TRIBUN-BALI.COM, CILACAP - Hampir semua keluarga terpidana mati dan masing-masing kuasa hukumnya serta perwakilan diplomatik negara asal tidak mampu berbuat banyak.
Mereka pasrah atas eksekusi mati para gembong narkoba itu.
Eksekusi dilakukan selewat pukul 00.00 WIB.
Jika tak ada perubahan hingga menit terakhir, ada 14 terpidana mati yang akan menghadapi regu tembak di lapangan terbuka tak jauh dari LP Besi Pulau Nusakambangan.
Laporan reporter Tribun Jogja dari Dermaga Wijayapura, cuaca menjelang pukul 00.00 WIB, terpatnya pukul 23.45, dilaporkan sangat buruk di seputar Pulau Nusakambangan.
Hujan deras disertai angin kencang dan dentuman petir bersahut-sahutan di angkasa.
Menurut warga yang tinggal dekat Dermaga Wijayapura, situasi ini mirip dengan suasana jelang eksekusi mati gelombang sebelumnya.
Meski tidak sama persis, menjelang waktu eksekusi selalu turun hujan.
Sesuai informasi yang beredar, sebagian besar napi warga negara Nigeria akan dimakamkam di Cilacap dan Ambarawa. Lainnya di Jakarta, Surabaya dan Magetan (Jatim), dan dua orang di Bengkalis, Riau.
Sudah pasrah
Keluarga napi atau perwakilannya dikumpulkan di Kejaksaan Negeri Cilacap, Kamis (28/7/2016) pagi.
Malamnya petugas keamanan mengizinkan keluarga dekat, staf diplomatik, rohaniwan, masuk ke Pulau Nusakambangan.
"Ya, kebanyakan sudah pasrah. Enggak bisa ngomong apa-apa," kata Pratikno (57), salah seorang anggota keluarga terpidana mati yang enggan disebutkan, sekeluar dari Kejaksaan Negeri Cilacap, Kamis sore.
Mereka telah diberikan kepastian oleh jaksa, eksekusi mati dilaksanakan Jumat (29/7/2016) dini hari.
"Kami pihak keluarga sudah diberitahu kejaksaan," lanjut Pratikno.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/hujan-angin-di-nusakambangan_20160729_111719.jpg)