Aura Magis Ngusaba Dangsil di Bungaya, Puluhan Ribu Krama Tumpah Ruah Mengarak Dangsil
Dangsil tumpang 11 ini dinaiki oleh keturunan Puri Klungkung yakni Ida Dalem Semaraputra.
Penulis: Saiful Rohim | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA – Ngusaba Dangsil, sebuah tradisi tua dan terbesar tetamian leluhur Desa Adat Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Bali berlangsung kembali setalah 14 tahun tak digelar.
Sebanyak 20 ribu lebih krama tumpah ruah.
Cenik, kelih, tua, bajang (kecil, besar, tua, muda) ketog semprong tedun (turun) medesa adat.
Aura magis sudah terasa menjelang ritual sakral yang konon merupakan tradisi ngusaba tertua di Bali ini menjelang dimulai, Senin (29/8/2016) pagi.
“Ngusaba Dangsil digelar ketika deha-teruna (pemudi dan pemuda) mulai berkurang karena menikah atau sebagainya. Mereka tak boleh sampai habis. Sebab deha-teruna punya tanggung jawab yang sangat penting di Desa adat Bungaya,” ungkap ketua panitia pelaksana Ngusaba Dangsil, IB Jungutan.

Deha-teruna adat Bungaya ngiring dangsil menuju Pura Penataran Bungaya, Senin (29/8/2016). (TRIBUN BALI/I NYOMAN MAHAYASA)
Dangsil adalah usungan berbentuk meru bertingkat-tingkat menjulang tinggi.
Komponennya dedaunan dan jaje Bali sebagai perwujudan rasa syukur untuk kesuburan dan kesejahteraan bumi yang dilimpahkan Sang Hyang Widhi Wasa.
Ngusaba Dangsil juga dikenal dengan Ngusaba Gede atau Ngusaba Aya.
Tradisi ini adalah ritual terbesar di Desa Adat Bungaya.
Dalam pelaksanaannya, krama yang turut tedun tak hanya berasal dari Bungaya saja.
Sejumah desa adat sekitar seperti Desa Adat Timrah, Bugbug, Tenganan Pegeringsingan, Tenganan Dauh Tukad, Kastala, Bebandem, Kayu Putih, Gumung, Macang, Tihingan, Asak, Jungsri, Ababi, dan Batudawa yang memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan Desa Adat Bungaya juga turut dilibatkan.
Deha-teruna mengenakan pakaian adat sederhana.

Deha-teruna adat Bungaya ngiring dangsil menuju Pura Penataran Bungaya, Senin (29/8/2016). (TRIBUN BALI/I NYOMAN MAHAYASA)
Kamen bercorak merah dengan selendang berwarna kuning membalut tubuh mereka setinggi dada. Sementara krama lanang pada umumnya betelanjang dada.
Ribuan krama inilah yang mengarak dangsil tersebut.
Menjelang pukul 11.00 Wita, saat matahari menjelang tepat berada di atas kepala, ritual pun di mulai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/deha-teruna-adat-bungaya_20160830_112838.jpg)