Sebaiknya Jangan Gunakan Darah Segar Dalam Membuat Adonan Lawar, Ini Sebabnya
Ini dikarenakan kondisi alam saat ini berbeda dengan di masa yang lalu.
Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, I Putu Sumantra, menghimbau kepada masyarakat Bali untuk meebat dalam kondisi lingkungan yang sehat dan higienis.
Ini dikarenakan kondisi alam saat ini berbeda dengan di masa yang lalu.
Ia mengatakan bahwa nampah (memotong daging babi) di sungai bisa berdampak fatal karena sungai saat ini sudah tidak higienis.
Selain itu mampah ke sungai ini juga bisa menularkan penyakit ke babi yang lainnya.
Dimana sungai sekarang itu ada limbah sablon, limbah pupuk sehingga tidak seperti dahulu lagi.
“Nah itu sekarang kami himbau nampahnya ditempat yang baik, yang bersih, dari aspek tempatnya dahulu. Kalau bisa minta petugas mengecek babinya,” jelasnya melalui telepon di Denpasar, Bali, Selasa (6/9/2016).
Ia juga menghimbau kepada masyarakat yang membuat lawar merah untuk menggunakan darah yang sudah dimatangkan.
Ini untuk mengurangi resiko penyakit yang terkandung dalam darah babi.
Karena dewasa ini pada unggas, pada babi, banyak memunculkan penyakit yang dinamakan Japanese Encephalitis (JE).
Selain ada juga penyakit lainnya yang memang tidak secara langsung menular pada manusia.
“Untuk mengolahnya, jadi ada masyarakat harus mematangkan dagingnya, dimasak sampai matang, jangan bikin setengah matang. Termasuk darahnya juga, kami sangat menganjurkan sebaiknya darahpun betul-betul dalam kondisi yang dimatangkan,” jelasnya.
Adapun penyakit JE itu adalah penyakit cacingan, yang ada di cacing hati.
Dimana penyakit ini dari ternaknya bisa menular ke manusia.
Ada juga penyakit yang tidak secara langsung berdampak ke manusia. Itu dinamakan Septichaemia Epizootica (SE), juga ada HoG Cholera.
Adapun ia menyarankan untuk babi yang sehat bisa dilihat dari ciri-ciri kulitnya.
Pertama itu tidak berkeriput, tidak yang bulunya jering (naik), karena babi seperti itu terindikasi cacingan.
Kedua dapat dilihat dari moncongnya. Babi yang sehat itu moncongnya basah. Ketika moncongnya keriput itu tidak sehat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/babi_20160311_225440.jpg)