Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

IGD RSUP Sanglah Geger, Pasien Teriak Sambil Memaki Petugas Minta Disuntik Mati!

Ruang IGD RSUP Sanglah mendadak ramai saat suara teriakan seseorang yang terdengar sedang memaki memenuhi ruangan

Penulis: Sarah Vanessa Bona | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN BALI/SARAH VANESSA BONA
Pasien Martin Padji Ratu (25) 

Tak satu pun obat maupun cairan infus yang diberikan kepadanya dengan alasan pihak medis tidak memberikan obat karena masih melakukan tahap observasi pada pria lulusan sarjana hukum tersebut.

"Saya sudah kesakitan sejak semalam sampai belum tidur sama sekali. Yang mereka lakukan hanya mengecek darah dan saluran pencernaan. Saya hanya minta biar rasa sakit ini bisa diredam. Biar saya juga bisa istirahat sebentar. Tapi selalu mereka bilang masih dalam tahap observasi," ujar Martin.

Bukannya mendapatkan obat yang dapat mengurangi rasa sakitnya, ia kembali kesal karena berulang kali dokter datang menanyakan keadaan dan identitasnya.

"Dokternya pun beda-beda bukan cuma satu orang saja, menurut saya mereka kurang koordinasi," ujar pria yang tinggal di Jalan Raya Sesetan Gang Udang Denpasar tersebut.

Ia juga mengomentari situasi di IGD yang terlalu berisik sehingga tidak bisa beristirahat.

Bahkan petugas tak berniat memberikan satu kursi pun untuk istrinya agar bisa duduk menemani dirinya.

"Istri saya berdiri terus sejak semalam. Penunggu pasien lain juga sampai tiduran di lantai, itu etis tidak," tanyanya.

Martin sempat menceritakan awal mula ia terkena penyakit empedu yaitu sebulan yang lalu.

Saat itu, ia sedang merayakan ulang tahun sang isteri dan minum alkohol bersama teman-temannya.

"Saya jarang minum, Hanya saat tertentu saja. Saya kira dulu sering sakit perut karena maag. Ternyata pas minum kumat parah dan baru tahu punya penyakit batu empedu," kisahnya.

Isteri Martin terlihat terus menenangkan suaminya agar tidak kembali kesal.

Kantung matanya terlihat menghitam karena belum tidur sejak malam dan terlalu banyak berdiri menunggui suaminya di IGD.

"Kami masih tunggu kamar karena bapak harus diopname. Tapi masih penuh," ujar isteri Martin.

Kabag Humas RSUP Sanglah, dr kadek Nariyantha menerangkan bahwa pihak RS sudah memberikan penjelasan mengenai kondisi medis Martin pada isterinya.

Martin tidak segera diberikan antibiotik karena pemberian obat oleh dokter tidak boleh sembarangan.

Pemeriksaan yang dilakukan juga bukan oleh dokter umum melainkan bedah digestive.

Saat itu dokter belum mengetahui sumber sakit sehingga melakukan sejumlah pemeriksaan MRI dan menyarankan opname.

"Namun ruangan memang sedang penuh dan pasien rencananya akan di rawat di Ruang Angsoka" jelas Nariyantha.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved