Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dharma Wacana

Makna Filosofi Purnama Kapat, ‘Titik Nol’ Hingga 21 Oktober

Selain itu, Purnama Kapat ini juga disebut dengan suba dewasa atau hari yang sangat baik selain Purnama Kedasa.

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Purnama Kapat, dalam bahasa Sansekerta disebut dengan Kartika.

Selain itu, Purnama Kapat ini juga disebut dengan suba dewasa atau hari yang sangat baik selain Purnama Kedasa.

Di mana dalam konsep realita alam semesta, sama sesuai dengan nyanyian kidung Warga Sari, ‘’Kartika panedenging sari’’.

Artinya, Purnamaning Kapat merupakan musim semi, dimana bunga-bunga sedang bermekaran.

Agama Hindu merupakan agama bhakti. Dalam mewujudkan bhakti pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, kita tidak pernah terlepas dari bunga.

Sebab bunga merupakan simbol kesucian.

Karena itulah, di saat bunga-bunga bermekaran, hari menjadi spesial untuk menggelar ritual keagamaan.

Namun ketika kita berbicara dari sudut pandang astronomi, khususnya di Bali, matahari dalam Purnama Kapat tepat berada pada garis katulistiwa.

Dalam bahasa Bali matahari itu disebut dalam posisi majeg atau berada di atas ubun-ubun.

Nah ketika berbicara di atas ubun-ubun, di situlah titik nol (0).

Titik nol itu adalah simbol daripada sunya (tidak ada) atau niskala. Keadaan ini akan dimulai dari 15 hingga 21 Oktober.

Selama rentang hari tersebut, masyarakat diharapkan melakukan pembersihan dan membangun sifat-sifat kedewataan, sehingga tumbuh berkembang ibaratkan bunga.

Hal tersebut tidak hanya dilakukan pada raga manusia itu sendiri.

Namun juga harus dilakukan pada alam semesta beserta isinya.

Dimana hal tersebut dilakukan dengan ritual.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved