Breaking News
Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Imigrasi Singaraja Bali Ingatkan Waspadai TPPO, Kartu PMI Wajib Dimiliki Saat Bekerja di Luar Negeri

calon PMI berpotensi menjadi korban TPPO dan TPPM jika sedari awal tidak menerima atau mendapat pemahaman

Tidak Ada/istimewa
Suasana saat Kantor Imigrasi Singaraja melakukan sosialisasi ke calon PMI atau siswa LPK di Jembrana, Rabu 15 April 2026. 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Imigrasi Kelas II TPI Singaraja menggelar sosialisasi terkait tindak pidana perdagangan orang (TPPO), Rabu 15 April 2026. 

Sosialisasi menggandeng manajemen serta mahasiswa LPK yang ada di Jembrana, Bali

Adalah sebagai upaya untuk mencegah terjadinya TPPO dengan modus bekerja keluar negeri. 

Biasanya, kasus tersebut dimanfaatkan oknum penyalur PMI ilegal dengan sasaran masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil dan kesulitan akses informasi.

Baca juga: NILAI 2 Ranperda Sangat Penting! Bupati Kembang: Soal BUMDES, Pencegahan dan Penanganan Korban TPPO

Bagi Calon PMI yang hendak bekerja ke luar harus mewaspadai beberapa hal penting. 

Seperti mewaspadai calo atau oknum penyalur tenaga kerja yang kerap menyasar wilayah terpencil yang jauh dari akses informasi. Sebab, hal ini berpotensi terjadi TPPO bahkan TPPM

Kemudian hal yang paling penting diperhatikan oleh Calon PMI adalah memiliki Kartu PMI, sehingga statusnya diketahui secara jelas dan rinci. 

Apalagi belakangan ini diketahui penipuan lebih banyak terjadi pada perempuan terutama yang berprofesi sebagai IRT dengan tujuan bekerja ke wilayah timur tengah. 

"Saat ini yang jadi atensi adalah TPPO dan TPPM. Sasaran kita adalah calon PMI," jelas Kepala Sub Seksi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas II TPI Singaraja, Richard Jandres saat dikonfirmasi, Rabu 15 April 2026. 

Sebab, kata dia, calon PMI berpotensi menjadi korban TPPO dan TPPM jika sedari awal tidak menerima atau mendapat pemahaman yang jelas terkait aturan teknisnya. 

Sehingga, sosialisasi ini diharapkan menjadi senjata utama ketika mereka hendak ke luar negeri

"Selain sosialisasi seperti saat ini, kita juga ada membentuk desa binaan untuk bisa jadi garda terdepan menyebar luaskan hal yang patut diantisipasi. Kami harap pengetahuan ini bisa menjadi bekal mereka sendiri (Calon PMI)," tegasnya.

Disinggung mengenai modus oknum penyalur ilegal, Richard mengungkapkan, biasanya masyarakat akan menerima iming-iming gaji tinggi, pekerjaan nyaman dan enak serta lainnya. 

Iming-iming tersebut biasanya membuat masyarakat tergiur, sehingga menjadi korban. Terutama dari daerah lain. 

"Biasanya yang lebih banyak menuju Kamboja, Thailand serta timur tengah. Jika di timur tengah lebih banyak IRT, kemudian Kamboja dan Thailand mungkin merekrut untuk di bidang IT," tandasnya. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved