Konflik Agama Tahun 1998 Picu Dewi Lestari Jadi Novelis
Lima belas tahun sudah terlewati dari pertama kali diterbitkan seri pertama dari buku-buku fiksi ilmiah itu pada tahun 2001 silam.
Penulis: Cisilia Agustina. S | Editor: Irma Yudistirani
Itu yang kemudian yang terus ditampilkan dan menjadi ciri khas masing-masing dari keenam buku Supernova.
"Ciri khas Supernova adalah berbaurnya ketertarikan saya pada hal tertentu di momen tertentu. Seolah buku tersebut didedikasikan untuk hal dan momen tertentu," ujar Dee.
Dalam dialog sastra “15 Tahun Supernova” yang merupakan bagian dari kegiatan tambahan Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2016 itu, Dee juga menceritakan hal-hal teknis tentang bagaimana Supernova pertama dibuat hingga dicetak pertama kali secara pribadi tanpa pengalaman menerbitkan buku sama sekali saat itu.
Membongkar seluruh duit tabungan, ia mencetak Supernova pertama kali sebanyak 5000 eksemplar yang kemudian didapati hasilnya tidak sesuai.
Ia menyebut 5000 cetakan pertama adalah cacat, bahkan masih kurang untuk menuju halaman tamat buku tersebut.
"Saya tidak tahu 5000 itu sebanyak apa, saya punya uang segitu dan bisa untuk sejumlah itu. Dan waktu itu sayangnya tidak ada quality control, hanya menyerahkan file tulisan ke percetakan. Dan ternyata windows yang dipakai di percetakan beda dengan file saya. Itu berpengaruh ke hasil cetak," ujar ibu dua anak ini.
Mendapati dirinya adalah seorang yang perfeksionis, Dee kemudian kembali mengumpulkan uang dan mencetak ulang bukunya sebanyak 2000 eksemplar dengan hasil yang jauh lebih baik dan bisa diterima.
"Jadi saya cetak ulang 2000 eksemplar. Berarti saya punya 7000 buku yang harus dijual. Karena tidak mungkin 5000 buku cetakan awal itu ditelantarkan," tambah Dee.
Padahal saat itu sebuah buku best seller (laris) saja hanya dicetak 3000 eksemplar, dan baru ludes terjual dalam waktu setahun.
Mencari akal bagaimana 5000 buku bisa ikut terjual, Dee membanting harga jual hingga kurang dari 50 persen harga sebenarnya untuk buku yang ia anggap cacat tersebut.
Edisi hemat, begitu ia sebut, ia jual ke kalangan mahasiswa.
Dari bazar ke bazar. Termasuk menjadi bagian dari goodie bag (bingkisan) untuk awak media.
Tak disangka, 7000 eksemplar Supernova pertama berhasil dijual habis hanya dalam waktu 14 hari.
Ketika kemudian serial Supernova menjadi 6 seri, itu pun adalah hal yang berbeda dari rencana awalnya.
Saat itu ia berencana membuat cuma tiga seri (trilogi) Supernova.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/dewi-lestari_20161030_122150.jpg)