Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Konflik Agama Tahun 1998 Picu Dewi Lestari Jadi Novelis

Lima belas tahun sudah terlewati dari pertama kali diterbitkan seri pertama dari buku-buku fiksi ilmiah itu pada tahun 2001 silam.

Tayang:
Penulis: Cisilia Agustina. S | Editor: Irma Yudistirani
Tribun Bali/ Cisilia Agustina Siahaan
Dewi "Dee" Lestari (kiri) tampil dalam dialog sastra “Merayakan 15 Tahun Supernova” di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar, Jumat (28/10/2016). 

Supernova pertama, Supernova  kedua yang kini menjadi berjudul Akar, berikutnya Petir, Partikel dan Gelombang, serta seri terakhir (ke-6) adalah Intelegensi Embun Pagi.

"Awalnya trilogi. Kemudian saat mengerjakan Supernova dua, ternyata berkembang. Yang tadinya hanya direncanakan untuk bab-bab saja, kemudian berubah menjadi masing-masing satu buku. Dari trilogi kemudian menjadi hexalogy (enam buku)," ujar Dee.

Spontanitas, menurutnya, memang harus ada dalam perencanaan membuat novel.

Hal tersebut akan memberikan sesuatu yang tak terduga, yang justru melengkapi proses kreatif dalam membuat novel.

"Dalam membuat novel menurut saya, dua hal ini harus ada, perencanaan dan spontanitas. Kalau di puisi mungkin lebih spontan. Tapi di novel dan karya tulis yang panjang, spontanitas dan perencanaan harus sama-sama ada," tuturnya.

Seperti pada kalimat terakhir di Supernova pertama, bukan tamat melainkan The Beginning, Supernova selain mengawali karirnya sebagai penulis, juga menjadikan petualangan tersendiri baginya.

Dee kemudian belajar menjadi penulis sekaligus penerbit dan promotor dari tiap karyanya untuk bisa dijual di pasaran.

Menurutnya, memasarkan buku tidak selesai dengan hanya dengan memajangnya di toko buku.

Tetap harus kreatif agar pembaca tahu ada buku tersebut, bukan hanya dari poster dan publikasi `statis` seadanya.

"Bagaimana cara memasarkannya biar orang tahu. Saat itu saya lihat pemasaran buku hanya dengan poster. Yang saya lakukan lebih dari itu, yakni roadshow dari satu tempat ke tempat lain, mengenalkan buku," ujar Dee.

Kreatifitas itu juga yang kemudian Dee tanamkan dalam berkarya. Ia tidak sependapat jika seniman harus susah dalam berkarya.

Menurutnya, seorang seniman harus kreatif dalam mengolah hal positif maupun negatif yang kemudian menjadi sebuah karya.

"Hal positif dan negatif itu sama-sama menjadi bahan bakar. Mengapa harus susah-susah berkarya? Mengapa tidak berkarya dengan bahagia," ujar Dee menutup dialog malam itu. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved