Sejarah Nama 'Batubulan' di Gianyar Pada Masa Kerajaan Gusti Ngurah Jambe

Pada abad XVII, Batubulan adalah wilayah paling timur Kerajaan Badung. Rajanya bernama I Gusti Ngurah Jambe Pule.

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Irma Yudistirani
Tribun Bali/ I Wayan Eri Gunarta
Pura Brahmana berada di wilayah persawahan di Banjar Batuaji. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Pada abad XVII, Batubulan adalah wilayah paling timur Kerajaan Badung.

Rajanya bernama I Gusti Ngurah Jambe Pule.

Sebelum Dewa Agung Kalesan, yang merupakan anak angkat raja Badung mendirikan istana di Batubulan, wilayah ini merupakan hutan belantara.

Baca: Kisah Pura Pengalasan yang Jadi Tempat Semedi Raja Pemecutan Bali
Baca: Air Mata di Pura Pengalasan Dipercaya Sembuhkan Penyakit

Pada saat berada di hutan bersama ratusan pengikutnya, Dewa Agung Kalesan melihat sebuah batu yang bercahaya seperti bulan.

Oleh karena itu, beliau menamai tempat itu Batubulan.

Saat ini batu bercahaya ini disimpan di Merajan Agung Batubulan.

Di sini Dewa Agung Kalesan dan para pengikutnya menetap untuk memegang pemerintahan serta memperluas wilayah kekuasaan sampai ke Batuyang dan Batuaji yang berlokasi di sebelah timur Batubulan.

Dalam pemerintahannya, para pengikut Dewa Kalesan mendirikan pura keluarga di setiap wilayah kekuasaannya.

Saat ini di Banjar Batuaji ditemui belasan pura keluarga.

Satu di antaranya adalah Pura Brahmana yang diempon oleh keluarga I Wayan Rikan, yang saat ini berstatus sebagai Jro Mangku Pura Brahmana.

Mangku Rikan mengaku tidak mengetahui kenapa ia yang seorang sudra bisa mengempon Pura Brahmana.

Tidak adanya lontar ataupun prasasti yang tertulis di pura tersebut membuatnya tidak bisa mencari tahu jawaban dari pertanyaan itu.

"Saya sudah mewarisi pura ini secara turun temurun. Tidak ada lontar, prasasti dan tidak ada pesan dari keluarga tentang pura ini. Makanya tidak tahu apa-apa. Saya hanya menjalankan apa yang sudah dilakukan oleh leluhur," ujarnya.

Di pura yang terletak di tengah persawahan ini, jumlah pelinggihnya mencapai belasan.

Di antaranya, Gedong Gede, Pengrurah, Pengapit, Sanggah Penyawang dan masih banyak lagi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved