Sejarah Nama 'Batubulan' di Gianyar Pada Masa Kerajaan Gusti Ngurah Jambe
Pada abad XVII, Batubulan adalah wilayah paling timur Kerajaan Badung. Rajanya bernama I Gusti Ngurah Jambe Pule.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Irma Yudistirani
Sejak berdirinya pura ini, pihak keluarga tidak pernah merenovasi.
Sehingga ciri khas pelinggih zaman kerajaan Badung yang identik dengan batu bata masih bisa ditemui di sini.
Simbol Bhatara yang dipuja Pura Brahmana berupa pratima Dewa-Dewi.
Odalan jatuh pada hari Budha Cemeng. Karena yang bersembahyang hanya keluarganya, odalan-nya selalu mengambil tingkat alit (kecil).
Tenggang waktu upacaranya hanya satu hari.
Meski berstatus sebagai jro mangku, namun status Rikan di banjar tetap krama biasa.
Hal tersebut dikarenakan ia menjadi pemangku pura keluarga, buka pura umum.
"Tapi, kalau odalan di Pura Kahyangan Tiga, saya tetap jadi pelayan jro mangku," ujarnya.
Secara turun temurun, anak yang dipilih menjadi pemangku adalah anak laki-laki tertua.
Sebab anak laki-laki terkecil menggantikan orangtua mebanjar adat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pura-brahmana_20161030_165740.jpg)