Kisah AA Sri Utari Setelah Sembuh dari Sakit, ‘Sekarang Saya Sudah Bisa Kembali Menari’
Ibu tiga orang anak tersebut tak pernah melupakan kejadian tiga tahun silam. Suatu hari, tiba-tiba dia merasakan pinggangnya kaku
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Anak Agung Sri Utari (59) punya pengalaman yang tak terluapakan.
Sakit punggung hebat membuat dia sempat putus asa.
Berbagai pengobatan mulai dokter, ahli fisiotheraphy sampai ahli pijat di berbagai daerah sudah dia kunjungi tetapi hasilnya nihil.
Tapi beruntung di ujung keputusasaan dia mendapat informasi tempat pengobatan di Surabaya.
“Saya bersyukur sekarang saya sudah bisa kembali menari dan bermain musik tanpa harus m,erasakan sakit lagi,” kata nenek dari enam orang cucu dengan senyum bahagia.
Ibu tiga orang anak tersebut tak pernah melupakan kejadian tiga tahun silam.
Suatu hari, tiba-tiba dia merasakan pinggangnya kaku, bahkan terkadang sampai kram.
“Semula saya anggap sakit biasa karena capek, sehingga cukup dimassage sudah kembali enak,” kata pengusaha hotel dan spa yang tinggal di Ubud tersebut.
Istri dari Anak Agung Gede Buwana Suryo Mataram (61) tersebut kemudian berusaha mencari kesembuhan, mulai dari dokter, fisiotherapy, sampai ke ahli massage di Bali dan Jakarta.
“Saya makin gusar karena sakit yang saya alami makin hari makin parah. Yang membuat saya makin tersiksa kalau berdiri tidak masalah, tetapi ketika duduk dan tidur malah sakitnya tak tertahankan sampai perut terasa panas sekali,” kata Sri Utari yang berat badannya sampai menurut 15 kilogram karena stres.
Di tengah rasa nyeri hebat tersebut, seorang dokter kemudian meminta untuk dilakukan pemeriksaan MRI di bagian punggungnya.
Dari hasil pemeriksaan akhirnya diketahui bahwa tulang punggungnya bergeser.
Semua keluarga dan teman-temannya melarang untuk dilakukan opereasi mengingat karena operasi itu ada di bagian sumsum tulang belakang, yang biasannya setelah operasi mengalami kelumpuhan.
“Saya waktu itu sempat akan berobat ke Singapura, tetapi semua melarang sehingga saya sendiri juga jadi gamang,” cerita Sri.
Di tengah penderitaan yang luar biasa tersebut, dia mendapat kabar dari salah temannya di Bali kalau di Surabaya ada seorang dokter yang ahli menangani sakit seperti yang dia derita.
Karena sudah tidak sabar ditemani keluarga kemudian menemui dr. Sofyanto, SpBS, dokter yang dimaksud tersebut.
Pada awalnya ia memang sempat gamang tetapi dengan penjelasan yang memadahi dia kemudian bersedia dilakukan operasi.
Operasi itu sendiri untuk mengembalikan posisi tulang belakang yang bergeser.
“Saya bersyukur sekali setelah operasi kondisinya, tidak sakit kecuali hanya kaku-kaku saja,” papar Sri Utari yang mengaku sempat putus asa tersebut.
Perkembangan fisiknya makin hari makin membaik, bahkan tiga bulan berikutnya dia sudah bisa mengikuti festival musik tradisional tanpa harus merasa terganggu dengan sakitnya.
Bahkan yang membahagiakan lagi setahun kemudian dia sudah bisa kembali ke pentas menari tari bali yang sudah sejak kecil digeluti.
“Karena saya seniman musik dan tari jadi tidak bisa dibayangkan bagaimana rasa bahagianya ketika bisa lagi turun di panggung yang sudah lama saya tinggalkan karena sakit tersebut,” kata Sri Utari dengan wajah berbinar.
Dari pengalaman itu lanjut Sri Utari, dia selalu menyampaikan kepada siapa saja yang pernah merasakan sakit seperti yang pernah dia rasakan untuk tidak takut atau ragu lagi untuk dilakukan operasi sepanjang kepada dokter yang mumpuni.
Bahkan dia sendiri akan memberikan testimony pada gathering kesehatan bedah saraf yang diadakan tim Comprehensive Brain and Spione Centre dan dr. Sofyan, SpBS yang digelar secara cuma-cuma di Hotel Pradise Sanur, Sabtu (3/12/2016).
“Biar makin banyak orang tahu sehingga sakitnya tidak berkelanjutan seperti yang pernah saya alami,” imbuh Sri Utari yang masih terlihat cantik dan bugar tersebut. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/aa-sri-utari_20161201_124814.jpg)