Eksekusi di Kampung Bugis Serangan
Ini Sejarah Orang Bugis di Serangan, Masjid dan Rumah Panggung Kuno Zaman Raja Badung
Kala itu merupakan awal mula masuknya orang Bugis ke Bali, khususnya di Pulau Serangan, Denpasar, yang sekarang dinamakan Kampung Bugis.
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sesepuh Kampung Bugis Serangan, Haji Muhammad Mansyur secara terpisah mengatakan, dalam perjalanan berlayar di laut, sebetulnya Mukmin tidak tahu arah mau ke mana.
Pada abad ke-17, diceritakan bahwa rombongan perahu tua itu melihat sebuah gunung menjulang yaitu Gunung Agung, Karangasem.
Mereka kemudian memutuskan untuk mendekat ke sana, akhirnya sampai di Singaraja.
Belanda masih berada di Singaraja, rombongan kemudian memutar arah ke selatan Pulau Bali yaitu di Pulau Serangan.
"Dia (Mukmin) bilang, berlabuh di sini (di Serangan, Red) saja," tutur pria yang sehari-hari bertugas mengurusi kuburan tua, masjid dan cagar budaya di Kampung Bugis Serangan itu.
Tak lama kemudian, lanjut Mansyur, muncul utusan Raja Puri Pemecutan Badung yang menanyakan keberadaan orang Bugis di Serangan.
Mereka kemudian dipanggil menghadap ke Puri Pemecutan.
Oleh Raja Badung Cokorda Ngurah Sakti yang beragama Hindu, Mukmin dinilai orang yang santun, dinilai dari tata krama dan sikapnya saat berkomunikasi.
Raja pun berpikir Mukmin bukan orang sembarangan.
Selama sekitar tiga bulan, Mukmin tinggal di Puri Pemecutan Badung.
Tapi, lambat laun sang Puak Matoa itu merasa kurang enak lantaran selalu meminta dan merasa merugikan.
Mukmin memohon agar bisa pindah, namun Raja tak mengizinkan.
Setelah memohon berulang kali, pada akhirnya Raja Badung mempersilakan tanahnya yang berupa hutan bakau di Pulau Serangan kala itu untuk ditempati.
"Sanggup, yang penting saya dekat perahu, begitu kata Mukmin (Karena perahu mereka sebelumnya ada di Serangan). Inilah dia yang pertama-tama menginjakkan kaki di Pulau Serangan. Di sini dia sambil menangkap ikan dijual ke pasar, amanlah dia," tutur kakek berusia 70 ini kepada Tribun Bali.
Tentunya Raja Badung kala itu tidak asal memberikan tanahnya untuk ditempati.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sebuah-kuburan-tua-di-kampung-bugis_20170105_101746.jpg)