Hari Raya Nyepi
Unik, Wujud Seram Ogoh-ogoh ST Acarya Perkasa Bagai Manusia Pohon
Tema ogoh-ogoh yang proses pembuatannya memakan waktu empat bulan ini tergolong jarang digunakan.
Penulis: I Made Prasetia Aryawan | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Ogoh-ogoh yang ada di Banjar Blungbang, Desa Penarungan, Mengwi, Kabupaten Badung terlihat seperti manusia pohon yang berwujud seram dengan bentuk nengkleng (berdiri dengan satu kaki).
Uniknya, ogoh-ogoh bertema Samantha Mahotama ini dibuat dengan menggunakan bahan yang alami atau menyatu dengan alam, seperti bambu, dedaunan, kain, kertas bekas, hingga pewarna alami.
Baca: Misterius, Ogoh-ogoh Banjar Penatahan Hangus Terbakar Ditinggal Makan, ‘Jangan Saling Curiga!’
Itulah konsep ogoh-ogoh hasil karya Sekaa Teruna (ST) Acarya Perkasa yang bekerjasama dengan Komunitas Gadgad Organic dalam hal pengetahuan, proses pembuatan, serta penggunaan pewarna alami.
Diceritakan bahwa Samantha Mahotama merupakan mahluk hidup yang ada di bumi, suatu ciptaan Tuhan yakni tumbuh-tumbuhan yang mempunyai kekuatan luar biasa sebagai pelingdung bumi atau pelindung mahluk hidup lainya.
Menurut pantauan Tribun Bali, ogoh-ogoh yang mengambil tema Samantha Mahotama ini memiliki ukuran tinggi sekitar 4,5 meter di atas tanah dengan lebar sekitar 1,5 meter.
Pembuatannya hanya menelan anggaran sekitar Rp 5 juta.
Tema ogoh-ogoh yang proses pembuatannya memakan waktu empat bulan ini tergolong jarang digunakan.
Ogoh-ogoh ini sangat ramah lingkungan karena ketika dibakar tidak akan mencemari udara.
Bahkan jika dibiarkan begitu saja akan bisa terurai dengan sendirinya.
“99,9 persen bahan yang kami gunakan ini adalah alami. Mulai dari bambu, dedaunan, kertas bekas, hingga pewarna alami,” kata konseptor ogoh-ogoh, I Gede Agustinus saat dijumpai di Bale Banjar Blungbang, Desa Penarungan, Mengwi, Selasa (21/3/2017).
Dia mengatakan, ide awal dalam pembuatan ogoh-ogoh alami ini muncul sejak tiga tahun lalu, hanya saja baru bisa terwujud di tahun ini.
Sejak tiga tahun lalu dia selalu berpikir agar ke depannya manusia bisa belajar untuk lebih menghargai alam ini dengan cara tidak menggunakan bahan yang berbahaya seperti styrofoam atau spons.
“Kami di sini selalu berusaha belajar untuk lebih menghargai alam ini dengan cara memanfaatkan bahan alami yang ada. Sehingga tidak lagi menyebabkan polusi udara dan lain sebagainya yang merugikan alam sekitar. Karena konsep yang kami gunakan adalah dari alam kembali ke alam,” tuturnya seraya mengatakan, proses pembuatan memakan waktu empat bulan yang diawali dari pembuatan rangka, pengayaman, proses pembuatan bentuk, proses penempelan kertas, proses pemasangan topeng, proses pengecatan, proses pemasangan kain, hingga pemasangan hiasan.
Terkait alasan memilih pewarnaan alami dengan menggunakan dedaunan, Gede mengatakan, limbah daun yang digunakan seperti ketapang, daun mangga, dan daun mahogany nantinya bisa digunakan sebagai kompos padat dan cair yang juga bermanfaat untuk tumbuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sekaa-teruna-acarya-perkasa_20170322_123319.jpg)