Putu Devi Berusaha Beri Pengertian Pada Pacar Karena Harus Berpelukan Saat Omed-omedan
Sembari berusaha mengakhiri pembicaraan, gadis berusia 17 tahun yang baru kali pertama ikut omed-omedan itu kemudian mengaku biasa-biasa saja
Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara | Editor: Eviera Paramita Sandi
Ratusan peserta yang semuanya berasal dari pemuda dan pemudi di ST Satya Dharma Kerti, itu mengenakan seragam kompak dengan berpakaian adat Bali Madya.
Ada yang mengaku ditonton sang kekasih, ada pula yang tidak.
Ada juga peserta yang memiliki pasangan di satu banjar tersebut.
Ketua ST Satya Dharma Kerti, I Komang Arya Wira Suryawan mengaku, dirinya kebetulan memiliki pacar dari Banjar Kaja.
Meski teknis prosesi tersebut digelar secara acak, namun anggota ST di sana sudah mengerti betul mana yang mempunyai pacar di Banjar Kaja, sehingga antara peserta dan pasangannya pasti berpasangan saat prosesi berlangsung.
"Semua sudah paham. Jadi sudah beberapa tahun saya ikut omed-omedan selalu berpasangan sama pacar," jelas Wira Suryawan.
Wajah senang peserta dalam tradisi yang satu ini benar-benar terlihat.
Saat mereka sudah lelah, riuh suara ribuan penonton dan jurnalis serta fotografer membuat para perserta kembali bersemangat.
Penglingsir Banjar Kaja, Jro Wayan Sunarya menjelaskan, tradisi omed-omedan ini tetap dilaksanakan lantaran dinilai sangat positif dalam rangka meningkatkan tali persaudaraan antar-STT di Banjar Kaja.
Sebab, para hari-hari Nyepi inilah, semua anggota ST berkumpul dan bersukaria.
"Karena sebelumnya kan ada yang sekolah di luar, kuliah di luar. Nah di sini kesempatan mereka untuk bertemu," kata Sunarya.
Pria kelahiran 1950 ini menjelaskan, tradisi omed-omedan mulai digelar pada 1970-an.
Tradisi itu dimulai dari kalangan petani di Banjar Kaja.
Setelah selesai panen, mereka umumnya menggelar prosesi untuk merayakan keberhasilan mereka bertani dengan cara omed-omedan yang artinya tarik-menarik.
"Omed itu artinya tarik. Jadi prosesi tarik-menarik. Sebenarnya dulu itu prosesinya tarik di pinggul. Yang laki-laki memegang pinggul wanita, yang wanita megang pinggul laki-laki. Nah perkembangan teknologilah yang membuat tradisi ini berkembang. Dari awalnya di pinggul, jadi berpelukan, dan sampai ciuman di pipi," kata Sunarya, seraya menjelaskan, sejak dua tahun lalu, ciuman di bibir dilarang panitia lantaran sudah keblablasan. (i wayan erwin widyaswara)
Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:
Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali
Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali
Follow >>> https://www.instagram.com/tribunbali
Subscribe >>> https://www.youtube.com/Tribun Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/omed-omed_20170330_111703.jpg)