Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Minimalisir Anak Dari Gadget, Trihita Alam Eco School Ajarkan Pelajaran Dengan Bermain

Ponsel pintar menjadi semacam 'orang terdekat' pertama sebelum pacar, orang tua, atau rekan dekat lainnya.Hal ini membuat anak dijauhkan

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/I Made Ardhiangga Ismayana
Sejumlah anak-anak di Trihita Alam Eco School diajarkan cara beternak dengan memberi makan kambing, bebek dan burung merpati, Senin (29/5/2017). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Derasnya tekhnologi informasi, membuat begitu cepat pula keluarnya teknologi smartphone atau gadget.

Ponsel pintar menjadi semacam 'orang terdekat' pertama sebelum pacar, orang tua, atau rekan dekat lainnya.

Hal ini membuat anak dijauhkan dari persoalan sosial, atau anak menjadi asosial.

Atas hal ini, sebuah sekolah alam pun didirikan. Trihita Alam Eco School, mengajarkan anak-anak dengan bermain.

Anak begitu mudah menerima pelajaran, tanpa disadari oleh si anak karena ia sedang bermain-main di alam.

Pantauan Tribun Bali di sekolah di kawasan Tukad Badung XXV itu, anak-anak diajarkan untuk bercocok tanam, beternak dengan memberi makan kambing, bebek dan burung merpati.

Tentu saja, sekolah seperti ini hanya satu-satunya di Pulau Seribu Pura ini.

Dan terpantau, anak-anak sedang bermain di rumput dengan pelajaran membuat roket dari pelepah pisang.‎

Mereka, anak-anak, tidak tersekat dinding, berada di rerumputan, dan tidak ada keramik di lantai. Hanya kayu, dan pohon sebagai tempat berteduh.

Pendiri Trihita Alam Eco School, Wanti Siregar menyatakan, Tirhita Alam School mengusung konsep Tri Hita Karana, yakni hubungan dengan Tuhan, sesama dan alam.

Pendidikan ini difokuskan kepada karakter unik setiap anak. Yang intinya, bermain di alam dan memberikan pelajaran.

Yang tanpa disadari pula bahwa anak mendapatkan semua pendidikannya ketika mereka asyik dengan permainannya.

"Jadi kami ingin mengeluarkan apa yang ada di dalam anak-anak (potensi), tidak harus menjejalkan dan malah anak tertekan," ucapnya, Senin (29/5/2017).

Sebelum memulai pelajaran pun, sambung dia, anak-anak akan disambut burung merpati yang bertengger di tembok.

Kemudian, mengamati pertumbuhan kelinci di sekolah dan bergantian mengelus kelinci itu. Di sini anak-anak akan tumbuh dengan tidak tertekan PR.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved