Minimalisir Anak Dari Gadget, Trihita Alam Eco School Ajarkan Pelajaran Dengan Bermain
Ponsel pintar menjadi semacam 'orang terdekat' pertama sebelum pacar, orang tua, atau rekan dekat lainnya.Hal ini membuat anak dijauhkan
Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Ady Sucipto
Mereka akan mengembangkan potensinya dengan lebih banyak bersosial, bekerjasama dengan berkelompok di lingkungan yang penuh perhatian.
"Anak-anak sudah banyak bermain gadget. Padahal mereka harus mengenal alam, bermain dan bersosial. Tidak dibebankan PR atau beban lainnya. Jadi kami ingin potensi pendidikan muncul dari anak, bukan kita yang selalu menjejalkan," ungkapnya.
Wanti mengaku, bahwa jaman sudah berubah, dahulu ketika Televisi hanya bisa dinikmati dengan sangat jarang kini entertainment merajalela.
Dan entertainment serta gadget menjadi tantangan tersendiri.
Karena itu, sekolah harus menjadi lebih menarik dari pada entertaiment.
"Dengan begitu, akan memacu anak untuk pergi ke sekolah. Mereka yang lebih antusias dan mempunyai inisiatif dan lebih kreatif dalam pendidikan," jelasnya.
Salah satu Wali Murid Imelda Pandjaitan menyatakan, bahwa dalam belajar ini, anaknya lah yang lebih antusias dan merasa bahagia.
Mereka tidak tertekan PR dan tertekan dalam menerima pelajaran.
Anak menjadi lebih mudah menerima pelajaran ketika diiringi dengan permainan dan berada di out door.
"Kalau anak saya bahagia, saya juga bahagia. Anak saya selalu saya tanya, bagaimana di sekolah? Dia selalu menjawab bahagia. Itu yang kami harapkan," jelasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sejumlah-anak-anak-di-trihita-alam-eco-school-diajarkan-cara-beternak_20170529_140113.jpg)