Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dibalik Penunjukan Putra Mahkota Arab Saudi Yang Sarat Pertanyaan

Kemungkinan dementia (gangguan ingatan) dan ambisi kekuasaan melatar belakangi tindakan Raja Salman.

Editor: Eviera Paramita Sandi
(NICHOLAS KAMM / AFP)
Presiden AS Donald Trump dan Wakil Putra Mahkota Arab Saudi yang juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan Mohammed bin Salman berbicara kepada media di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, Selasa (14/3/2017). 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Pengangkatan Mohammed bin Salman, anak Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz, menimbulkan sejumlah pertanyaan karena tindakan ini melawan tradisi dan Mohammed dipandang kurang berpengalaman.

Pengamat Timur Tengah, Smith Al Hadar dari Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) memandang kemungkinan dementia (gangguan ingatan) dan ambisi kekuasaan melatar belakangi tindakan Raja Salman.

" Raja Salman ini sebenarnya sudah kehilangan kemampuan untuk memerintah karena dia menderita dementia, penyakit hilang ingatan dalam jangka pendek.”

“Penyakitnya ini dan ambisinya untuk menegakkan keluarganya dia untuk memerintah Arab Saudi, telah membuatnya kehilangan kepekaan."

Sementara itu Dina Y Sulaeman, Direktur Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES) memandang pengaruh anak-anak yang menjadi alasan keputusannya.

"Saya pikir lebih karena dipengaruhi anaknya. Beliau sudah tua dan kelihatannya sudah mengalami insecure, sudah mengalami rasa tidak aman. Apalagi konflik juga sangat banyak. Saya kira tidak (karena dementia)."

Raja Salman bin Abdul Aziz yang saat ini berumur 82 tahun, sebelumnya adalah Gubernur Riyadh selama 48 tahun.

Tetapi siapakah sebenarnya Mohammed bin Salman?

1. Anak Raja

Mohammed bin Salman adalah anak raja Saudi dari istri ketiga, dari dua belas bersaudara. Pria berumur 31 tahun ini dikenal cerdas tetapi kurang berpengalaman. Pada tahun 2015, dia dipromosikan sebagai wakil putra mahkota.

Mohammed bin Salman dikenal sebagai seseorang yang emosional, populer di kalangan anak muda dan mengenyam pendidikan di Barat, kata Dina Y Sulaeman.

"Memang masih sangat muda, Pernah mengalami pendidikan di negara Barat. Memang dikenal sebagai orang yang impulsif, jadi emosional. Populer di kalangan anak muda di Saudi. Januari 2015, dia akhirnya diangkat sebagai menteri pertahanan."

2. Ketergantungan dari minyak

Sebagai ketua Dewan Ekonomi dan Pembangunan, Mohammed dipandang berhasil dalam menghasilkan konsep Vision 2030, seperti dikatakan pengamat Timur Tengah, Smith Al Hadar. "Dia memang berperan dalam menentukan visi Saudi tahun 2030. Diproyeksikan tahun 2030 itu Saudi telah melepaskan ketergantungannya pada minyak. Dan dia berada di balik itu."

Saat ini sebagian besar pemasukan negara ini masih berasal dari minyak, tetapi rendahnya harga minyak dan semakin berkurangnya cadangan dan pasokan, membuat negara ini mengubah kebijakan ekonomi untuk masa depan.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved