Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dibalik Penunjukan Putra Mahkota Arab Saudi Yang Sarat Pertanyaan

Kemungkinan dementia (gangguan ingatan) dan ambisi kekuasaan melatar belakangi tindakan Raja Salman.

Editor: Eviera Paramita Sandi
(NICHOLAS KAMM / AFP)
Presiden AS Donald Trump dan Wakil Putra Mahkota Arab Saudi yang juga menjabat sebagai Menteri Pertahanan Mohammed bin Salman berbicara kepada media di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, Selasa (14/3/2017). 

3. Masalah Qatar dan Yaman

Sebagai menteri pertahanan, Mohammed dipandang yang paling bertanggung jawab atas masalah yang dihadapi kerajaan ini terkait hubungan dengan Qatar dan Yaman.

Saat ini sebagian pihak memandang kebijakan Saudi terkait dengan Qatar, membuat negara itu dikucilkan pihak-pihak lain, baik oleh sesama negara Teluk, Amerika Serikat (AS) maupun PBB.

"Apa Saudi berpikir dengan menekan Qatar, itu nanti negara-negara besar yang selama ini berhubungan baik dengan Qatar akan menjauh, karena mereka akan memprioritas hubungan dengan Arab Saudidibandingkan dengan dengan negara kecil seperti Qatar? Tetapi ternyata negara regional seperti Turki dan Iran itu ternyata berbalik dan mendukung Qatar," kata Smith Al Hadar.

Terkait dengan Yaman, pengamat Timur Tengah, Dina Y Sulaeman memandang usia Mohammed yang sangat muda tetapi sudah menduduki posisi strategis menjadi menteri pertahanan membuat Saudi menghadapi masalah.

"Keputusan-keputusannya tidak strategis. Jadi misalnya serangan ke Yaman itu kan justru sangat merugikan Saudi. Akhirnya Saudi harus membiayai perang yang sangat mahal dan sebenarnya secara strategis tidak menguntungkan untuk Saudi saat ini."

4. Keberlangsung kekuasaan keluarga

Selain Mohammed, Raja Salman juga mengangkat anaknya Khaled yang mantan pilot, menjadi dutabesar Arab Saudi untuk Amerika Serikat.

Pengangkatan mereka dipandang merupakan bagian pertama pemberian berbagai posisi penting kepada keturunannya dan merupakan usaha pembentukan dinasti baru.

" Raja Salman ini sedang berusaha menciptakan dinasti baru melalui garis keturunan Salman ini, yang akan memerintah Saudi ke depan. Mengingat Mohammed bin Salman masih muda, tentu saja dia akan berkuasa lama menjadi raja Saudi," kata pengamat Smith Al Hadar.

5. Mendobrak tradisi

Pemunculan Mohammed bin Salman telah menyebabkan sejumlah pihak resah karena adanya sejumlah kejanggalan, seperti dikatakan Smith Al Hadar.

" Raja Salman itu kan masih punya adik-adik. Dua adiknya. Dan selama ini suksesinya itu, setelah ayah mereka, Raja Abdul Aziz, turunnya itu saudara-saudaranya saling ganti. Jadi mestinya kalaupun Raja Salmanmengangkat orangnya, mestinya dia punya adik."

Dina Y. Sulaeman mengatakan, berdasarkan tradisi Arab Saudi seharusnya Mohammed bin Nayef memang tetap menjadi putra mahkota.

"Kalau secara urut-urutannya, kalau misalnya Raja Salman, King Salman saat ini meninggal, itu penggantinya Mohammed bin Nayef, bukan Mohammed bin Salman. Meskipun Mohammed bin Salman ini putra kandung Raja Salman yang sekarang."

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved