Tanamkan Nasionalisme Kepada Generasi Muda, PDIP Gelar Lomba Pidato Bung Karno se-Bali
Lomba ini sendiri diikuti oleh perwakilan pemenang yang sebelumnya dilakukan di tingkat kabupaten/kota di Bali
Penulis: Ragil Armando | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Mengambil momentum bulan Bung Karno 2017 DPD PDIP Bali menggelar final lomba pidato Bung Karno dan membaca teks proklamasi tingkat pelajar SD hingga SMA se-Bali, di Aula Kantor DPD PDIP Bali, Denpasar, Jumat (23/6/2017).
Lomba ini sendiri diikuti oleh perwakilan pemenang yang sebelumnya dilakukan di tingkat kabupaten/kota di Bali.
"Ini merupakan kelanjutan dari lomba di kabupaten. Dari 401 yang bertarung di kabupaten, lolos 36 orang, 27 ikut pidato dan 9 ikut proklamasi," kata Ketua Panitia yang juga Wakil Ketua DPD PDIP Bali, Nyoman Parta dalam sambutannya.
Dalam sambutannya juga ia mengatakan bahwa menurutnya lomba ini digelar untuk menghormati ketokohan Bung Karno sebagai Bapak Bangsa dan mengenang nilai-nilai yang sudah diperjuangkannya untuk meraih kemerdekaan Indonesia.
Ia juga mengatakan bahwa Bung Karno merupakan sosok yang nyaris sempurna dalam perjuangannya.
"Kenapa Bung Karno ini diperingati. Bung Karno adalah tokoh yang nyaris sempurna bahkan bisa dikatakan sempurna," paparnya.
Saat berpidato, dirinya sempat meneriakkan pekik merdeka yang diikuti oleh segenap hadirin yang memenuhi aula tersebut.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPRD Bali ini menjelaskan bahwa pekik salam merdeka merupakan salam nasional bangsa Indonesia yang diputuskan melalui Maklumat pemerintah tanggal 31 Agustus 1945. Lalu, salam nasional ini resmi berlaku sejak tanggal 1 September 1945.
Namun, ia mengatakan bahwa akibat sebuah proses politik, maka salam nasional ini tidak pernah diucapkan lagi.
Ironisnya, sebagian orang di generasi sekarang menganggap salam nasional itu hanya identik dengan slogan politik milik PDIP.
"Merdeka ini bukan salam milik PDI Perjuangan. Ini merupakan salam nasional milik bangsa Indonesia. Salam ini dimaksudkan kepada generasi setelah kemerdekaan. Ini untuk mengingatkan bahwa perjuangan kemerdekaan dengan darah dan air mata," jelasnya.
Selain itu, ia mengatakan bahwa pihaknya ingin menegaskan posisi PDIP sebagai partai ideologis di mata masyarakat Bali.
Apalagi menurutnya, Bali sendiri sebagai basis kultural PDIP akan menggelar pesta demokrasi yakni Pilkada Serentak 2018 yaitu Pilgub Bali, Pilkada Klungkung, dan Pilkada Gianyar.
"Menampilkan wajah PDI Perjuangan sebagai partai ideologis dan memperkokoh pondasi partai pelopor yaitu partai yang dipimpin oleh ide, menghayati ide, memikul ide, dan membumikan ide," tegasnya.
Tak hanya itu, kehadiran parpol menurutnya tidak hanya bergelut dalam masalah politik semata. Tetapi, juga sebagai sarana untuk mendidik generasi muda untuk cinta tanah air, bangsa, dan negara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pdip_20170623_215308.jpg)