Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Istilah Upload dan Download Lebih Populer, Remaja Lebih Pede Pakai Istilah Asing Dibanding Indonesia

Penggunaan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari mulai ditinggalkan. Bahkan istilah download hingga upload sulit dicarikan padanan katanya da

Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura | Editor: imam rosidin
Tribun Bali/A.A Gde Putu Wahyura
DEKLARASI BAHASA -Ratusan pelajar mendengar puisi dalam Deklarasi Gerakan Pengutamaan Bahasa Negara di ruang publik, di halaman timur Monumen Bajra Sandhi, Denpasar, Rabu (12/7). 

Bukannnya melarang menggunakan bahasa asing, namun harus mengutamakan bahasa Indonesia.

Dicontohkannya beberapa restoran, baliho masih sedikit menggunakan bahasa Indonesia.

Walaupun tidak menyebut jumlah presesntase objek wisata yang tidak menggunakan bahasa Indonesia, namun dari kajian Balai Media Ruang Publik seperti penamaan hotel, restoran, spanduk baliho sebagian besar relatif kurang tertib menggunakan bahasa Indonesia.

“Misalnya petunjuk untuk daftar menu masih ada bahasa asing. Kita harus bekerja bersama seandainya ada pengusaha baru di Bali sebaiknya direvisi dahulu dari segi penamaan tata bahasa Indoneia,” ujarnya.

Dengan penggunaan Bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah justru dikatakannya sebagai promosi daerah.

Ini seperti negara fanatik di Jpang, yang betul-betul fanatik dan setiap informasi dengan bahasa dan tulisan jepang. Begitu juga di Asean seperti Thailand dan Malaysia.

“Kita di Indoneaia sudah terlanjur kebablasan, kita terlalu memberikan nilai tinggi kepada bahasa asing,” jelasnya.

Tak Pengaruhi Wisatawan

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Budaya RI Prof Dr Dadang Sunendar mengatakan penggunaan bahasa asing masih boleh di objek wisata, namun diutamakan bahasa Indonesia, bahasa daerah, baru bahasa asing.

Dengan penerapan bahasa Indonesia di objek wisata dinilainya tidak akan mempengaruhi iklim inveatasi atau kunjungan wisatawan ke Indonesia.

Apalagi Bali sebagai destinasi pariwisata juga harus mengedepankan bahasa Indonesia dan tidak akan mempengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali.

“Orang asing justru ingin melihat di Indonesia bahasanya apa sih? Enggak akan ada pengaruhnya kedatangan turis. Sekali lagi kalau ada nama bangunan, hotel, tempat wisata bahasa Indonesia didahulukan. Ini sangat mudah tinggal niatnya saja. Kemudian ucapan selamat datang saat acara internasional pakai bahasa Indonesia saja. Kita harus bangga akan diri sendiri, ini revolusi mental jadi bangga sama diri kita,” jelasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan Pemprov Bali, Dewa Putu Beratha mengatakan diperlukan komitmen untuk penggunaan bahasa Indonesia, baik dalam dunia pendidikan, forum resmi, rapat-rapat, seminar media massa baik cetak maupun elektronik. Bahasa sebagai alat komunikasi, bahasa sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial, dan bahasa sebagai alat kontrol sosial. (*)


Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved