Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dharma Wacana

Beragama yang Bijak, Terapkan Filosofi Vasudhaiva Kutumbakam

Sebelum dikenalnya ritual kolektif, baik yang digelar oleh desa pakraman ataupun sebuah event organizer (EO), umat melakukan ritual tersebut sendirian

Tayang:

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Seiring berjalannya waktu, cara keberagamaan masyarakat Hindu di Bali semakin matang.

Khususnya dalam ritual manusa yadnya dan pitra yadnya.

Hal ini ditandai dengan mulai banyaknya umat yang melangsungkan ritual tersebut secara kolektif atau bersama-sama.

Cara ini sangat meringankan masyarakat secara ekonomi.

Sebelum dikenalnya ritual kolektif, baik yang digelar oleh desa pakraman ataupun sebuah event organizer (EO), umat melakukan ritual tersebut sendirian sehingga membutuhkan banyak biaya.

Sesungguhnya, biaya besar itu bukan untuk sarana upakaranya.

Tetapi biaya konsumsi untuk krama yang membantu membuatkan kita sarana upakara.

Namun, dengan dilakukan secara beramai-ramai, seperti metatah atau ngaben, biaya tersebut bisa ditekan dengan cara iuran bersama krama yang diajak menggelar ritual itu.

Secara umum hal tersebut sudah dirasakan manfaat positifnya.

Namun di satu sisi, hal yang dapat mengancam sistem kolektif ini adalah adanya sekelompok orang yang membawa sistem soroh.

Mereka menganggap sistem kolektif ini dilakukan bersama sesama soroh. Tentu hal ini merupakan sebuah kemunduran.

Sebab mendiskreditkan soroh lainnya.

Dan, hal tersebut bertentangan dengan ajaran agama.

Agama Hindu memiliki ajaran, ‘’Vasudhaiva Kutumbakam’’, yang artinya seluruh dunia ini adalah satu keluarga tunggal.

Bagi umat Hindu yang memiliki akal sehat dan hati nurani, pastilah memahami ajaran ini.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved