Gunung Agung Terkini

Kisah Saksi Mata Letusan Gunung Agung Tahun 1963, Terdengar Suara Misterius ini dari Puncak

Pada tangal 17 Maret 1963, terjadi letusan paroksima dan awan letusannya mencapai ketinggian lebih kurang 5 kilometer

Gunung Agung masih mengepulkan asap pada 1 April 1963 hampir dua pekan setelah letusan besar yang memporak-porandakan bali. 

Sejarah mencatat, Gunung Agung pernah meletus sebanyak empat kali, yaitu pada 1808, 1821, 1843, dan 1963.

I Gusti Ketut Rai (67), warga yang tinggal di Besakih menceritakan, saat kejadian dia masih berusia 13 tahun.

Ia dan keluarganya tinggal di bawah kaki Gunung Agung.

Sebelum meletus pertama kali, ia sering mendengar suara seperti piring pecah dari arah Gunung Agung.

Belum lagi, dia menyaksikan banyak binatang hutan turun ke pemukiman serta pepohonan yang ada di sekitar lereng gunung terlihat layu.

"Suara seperti piring pecah itu saya dengar sekitar 3 hari sebelum letusan pertama. Selain itu juga gempa naik turun dan besar sekali," katanya kepada Kompas.com, Jumat (29/9/2017).

Ketika jam 3 dini hari dia dan seluruh warga yang tinggal di Besakih keluar rumah setelah mendengar suara dentuman keras dan melihat ada percikan api dari puncak Gunung Agung.

"Jam 6 pagi saat matahari terbit tidak ada cahaya sama sekali. Gelap dan kami mengungsi membawa obor. Asap hitam. Bumi Hitam. Semua gelap. Penuh dengan abu," kata Ketut Rai.

Hal senada diceritakan Jero Mangku Suwenten (75).

Perempuan yang menjadi pengayah di Pura Besakih sejak tahun 1971 tersebut bercerita, saat Gunung Agung meletus dia berusia 21 tahun.

Dia melihat langsung hujan batu di tempat tinggalnya. Bahkan saat mengungsi, dia dan keluarganya harus melindungi kepala mereka dengan menggunakan alat rumah tangga.

Jero Mangku Suwenten (75), pengayah di Pura Besakih dan menjadi saksi besarnya letusan Gunung Agung pada tahun 1963.
Jero Mangku Suwenten (75), pengayah di Pura Besakih dan menjadi saksi besarnya letusan Gunung Agung pada tahun 1963. ((KOMPAS.com/Ira Rachmawati))

"Ada batu yang sebesar kepala bayi. Dari jauh juga terlihat percikan api. Jika tidak dilindungi kepala bisa luka. Kami berjalan kaki saat mengungsi. Sudah tidak tahu apakah sudah malam atau masih siang. Jalan saja terus. Selama beberapa hari gelap gulita," jelasnya.

Jero Mangku Suwenten dan keluarga kembali ke rumahnya setelah suasana aman.

Selama tujuh keturunan, keluarganya menjadi pengayah di Pura Besakih yang berada di radius 6 kilometer dari puncak Gunung Agung.

Pengayah bertugas untuk mempersiapkan jika ada masyarakat yang bersembayang di Pura Besakih.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved