Dharma Wacana
Fenomena `Mangku Lebih’ di Masyarakat, Setiap Orang Boleh Mewinten, Tapi Perhatikan Ini
Bahkan istilah yang lebih keras lagi ialah ‘mangku stres’ atau orang yang menjadi pemangku atas kehendaknya sendiri untuk menghindari suatu masalah.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Barusan menjadi pebisnis, kemudian jatuh bangkrut akhirnya mewinten.
Barusan jadi preman yang wajah dan tubuhnya ‘hancur’, sekarang sudah jadi pemangku.
Yang seperti inilah ‘ane ngae gumi uwug’.
Di sinilah perlu kembali diingatkan bahwa kelahiran menjadi manusia tidak akan pernah terlepas dari masalah.
Meskipun menjadi pemangku maupun sulinggih, permasalahan itu tidak akan pernah berakhir.
Namun penderitaan itu bisa dikurangi dengan cara memahami agama esoterik atau agama ke jero (ke dalam).
Dalam hal ini, kita dituntut untuk memiliki kecerdasan intelektual.
Dengan kecerdasan inilah, kita akan mampu menakar semua permasalahan.
Pepatah bijak mengatakan `selama manusia belum selesai berurusan dengan pikiran, masalah tidak akan pernah selesai`.
Itu artinya, permasalahan utama atau penyebab penderitaan yang utama tidak lain adalah pikiran.
Dalam kitab sarasmamuscaya juga dikatakan `apan ikang manah ngaranya, ya ika witning indriya, maprawrtti ta ya ring subhasubhakarma, matangnya ikang manah juga prihen kahrtanya sakareng,”.
Artinya, pikiran adalah sumber dari segala macam nafsu, ialah yang menggerakkan dan mengarahkan perbuatan menuju kebajikan ataupun kejahatan.
Maka dari itu, usahakanlah terlebih dahulu mengendalikan pikiran.
Setelah itu, kita butuh kecerdasan emosional.
Emosi yang dimaksudkan di sini bukan hanya emosi dalam aspek kemarahan, tetapi sensitivitas atau guna satwam.